
caristyle.co.id , JAKARTA — Laju penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) dinilai masih berada dalam fase bullish setelah berhasil menembus level psikologis 9.000 secara intraday pada pekan pertama Januari 2026.
Fenomena January Effect yang diiringi derasnya arus modal asing menjadi motor utama pendorong indeks ke level tertinggi sepanjang masa (all-time high).
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menyampaikan bahwa performa impresif IHSG sepanjang pekan lalu dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan domestik.
: Target Harga Saham RMKE Direvisi Naik, Cek Katalisnya
Dari sisi domestik, kepercayaan investor global tercermin dari catatan Bank Indonesia yang membukukan beli bersih (net buy) asing senilai Rp1,44 triliun pada pekan pertama Januari. Masuknya modal asing ini mengonfirmasi optimisme pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia di awal tahun.
“Masuknya modal asing ini menunjukkan kepercayaan investor global yang kuat terhadap fundamental ekonomi Indonesia,” ucapnya, Minggu (11/1/2026),
Namun, tantangan global meliputi sinyal kebijakan hawkish dari Bank of Japan (BOJ). Ancaman kenaikan suku bunga di Jepang memicu potensi unwinding carry trade, di mana investor yang sebelumnya meminjam yen dengan bunga rendah mulai menarik likuiditas dari pasar negara berkembang.
Di sisi lain, reli harga komoditas tambang dan energi, terutama tembaga yang didorong permintaan teknologi AI dan kendaraan listrik, masih menjadi katalis positif bagi saham-saham sektor barang baku di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menghadapi pekan perdagangan yang lebih singkat karena libur Isra Mi’raj pada Jumat (16/1), IPOT merekomendasikan strategi investasi follow the money.
: : Lo Kheng Hong Borong Lagi Saham ABMM 2026
Strategi ini difokuskan pada saham-saham yang sedang dalam tren menguat dengan aliran dana yang tinggi, khususnya pada sektor properti. Selain memantau aliran dana, pasar kini mencermati rilis data neraca perdagangan periode Desember yang akan segera diumumkan pemerintah.
“Pasar menantikan apakah surplus perdagangan Indonesia masih berlanjut di tengah fluktuasi harga komoditas global. Angka surplus yang kuat akan memperkokoh nilai tukar rupiah dan menjaga minat investor asing,” ucap David.
Dalam mengelola strategi ini, David menyampaikan bahwa investor perlu tetap disiplin pada manajemen risiko di tengah fluktuasi harga komoditas global.
Sejalan dengan strategi tersebut, Indo Premier Sekuritas memberikan rekomendasi teknikal untuk tiga saham pilihan untuk pekan depan.
PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) direkomendasikan beli dengan target harga Rp1.050 per saham, didukung oleh konfirmasi area support di level 920 dan indikator MACD yang menunjukkan pola golden cross.
Untuk sektor tambang, PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) menarik untuk dicermati dengan strategi buy on breakout pada target harga Rp1.875 per saham.
Terakhir, PT Indika Energy Tbk. (INDY) direkomendasikan buy on pullback di kisaran Rp2.700–Rp2.780 dengan target harga Rp3.000, mempertimbangkan posisi harga yang bergerak di atas rata-rata bergerak 5 hari (MA5).
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



