Rencana pemerintah beri MBG ke lansia – mending diganti uang atau beras, bisa dimanfaatkan

Posted on

Rencana pemerintah memberi makanan bergizi gratis (MBG) untuk lansia disebut harus memiliki petunjuk teknis (juknis) yang jelas, detail dan penuh kehati-hatian. Pasalnya, pemenuhan menu gizi dan pola makan lansia lebih kompleks dibandingkan target penerima MBG lainnya.

Pendiri lembaga kajian Center for Indonesia Strategic Development Initiatives (CISDI) Diah Satyani Saminarsih berkata, tata kelola MBG yang bermasalah untuk lansia akan meningkatkan aspek kerentanan karena kondisi kesehatan yang cenderung menurun serta adanya penyakit tidak menular.

“Risiko yang dialami bukan hanya keracunan, melainkan juga meningkatkan risiko kesehatan yang dapat berimbas pada komplikasi penyakit. Lansia menunjukkan gejala keracunan dan risiko kesehatan yang tidak selalu terlihat,” kata Diah kepada BBC News Indonesia, Kamis (08/01).

Associate Professor Monash University Indonesia bidang Kesehatan Publik, Grace Wangge menyebut ada beberapa aspek penting dalam pemberian MBG pada lansia.

“Pertama dari segi tekstur dan rasa, lalu kandungan yang padat gizi. Kemudian makanan bersih dan higienis, peran caregiver memberikan MBG, serta bagaimana monitoringnya,” kata Grace.

“Lansia tidak seragam. Masing-masing punya masalah kesehatan dan fungsional yang berbeda-beda. Jadi tak bisa setiap lansia itu makanan dan caranya yang sama,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau disapa Gus Ipul bilang pemerintah akan memberikan MBG untuk lebih dari 100.000 lansia berusia di atas 75 tahun dan 36.000 penyandang disabilitas pada 2026.

Selain memberikan paket makanan senilai Rp15.000 per porsi itu, Kementerian Sosial (Kemensos) juga menyediakan pengasuh (caregiver) untuk merawat para lansia.

MBG lansia ini merupakan transformasi dari program Kemensos sebelumnya yang bernama Program Permakanan.

‘Mending diganti uang atau beras, bisa kita manfaatkan’

Pasar Peterongan, Kota Semarang, Jawa Tengah, menjadi tempat Saidi Hadi Sumitro menjajakan dagangannya setiap hari.

Walaupun telah berusia 77 tahun, Saidi tetap berjualan pakaian dan peralatan rumah tangga.

“Jualan hanya untuk makan, kalau hujan ya kehujanan dan panas kepanasan,” ungkap pria lansia asal Wonodri, di Semarang Selatan itu saat diwawancara wartawan Kamal yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Kamis (08/01).

Tahun lalu, Saidi menerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) dan terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), yang menjadi salah satu syarat menerima MBG lansia dari Kemensos.

Saidi membayangkan akan ada beberapa tantangan yang dihadapinya dalam menerima MBG.

Pertama mengenai proses pengiriman. “Saya jualan saja sudah susah, nanti ada MBG itu yang ambil bagaimana? Kalau diantar juga tidak apa-apa.”

Selanjutnya, katanya, ada beberapa makanan yang sensitif dan menjadi pantangan untuk tubuhnya.

“Saya itu dulu pernah mengalami sakit paru sejak 20 tahun lalu, sekarang masih hidup sudah bersyukur. Jadi ada beberapa makanan yang saya hindari,” ujar Saidi.

“Seperti kangkung itu saya tidak makan, karena kalau makan perut saya sakit.”

Berkaca dari itu, menurutnya, lebih baik program MBG lansia diganti dengan hal lain.

“Saya kira tidak usah. Masakan orang lain basi kan saya tidak tahu, kalau masakan sendiri kan tahu. Mending diganti uang atau beras, malah bisa kita manfaatkan,” katanya.

Wakil Ketua Satgas MBG Jateng, Hanung Triyono mengaku belum mendapatkan arahan perihal MBG untuk lansia itu.

“MBG untuk lansia belum ada petunjuk secara regulasi, sesuai arahan yang disampaikan Bapak Presiden kemarin saat memberikan arahan pada panen raya dan pengumuman swasembada pangan,” ucap Hanung dalam keterangan tertulisnya.

Saat ini, pihaknya mencatat ada sekitar 9,64 juta penerima MBG di Jawa Tengah yang tersebar dari (TK), SMA hingga pesantren.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Plt Dinas Sosial Kota Semarang, Endang Sarwiningsih Setyawulan.

“Di Semarang belum ada instruksi dari Kemensos dan juga sudah saya koordinasikan dengan Ketua MBG di Kota Semarang, yang dilayani tambahannya balita, ibu hamil, ibu menyusui,” terangnya.

‘Dikasih ya sangat berterima kasih, tapi itu enggak bayar kan?

Berbeda dengan Saidi, seorang perempuan berusia 96 tahun dari Solo, bernama Welas, menyambut baik MBG untuk lansia.

“Dikasih nggih sangat maturnuwun (dikasih ya sangat berterima kasih), tapi itu enggak bayar kan?,” kata perempuan kelahiran 15 Januari 1930 itu kepada wartawan Fajar Sodiq di Solo, Kamis (08/01).

Pasalnya, Welas yang tinggal di perkampungan padat penduduk di Kampung Nayu, Banjarsari itu, mengaku tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah.

“BLT mboten [tidak pernah], BLT nggih mboten. Harapannya ya ingin seharusnya. Apa-apa semua kan negara, kalau negara enggak ngasih ya sampun mboten nopo-nopo [tidak apa-apa],” ujar dia.

Welas kini mengisi hari-harinya dengan merawat cucu. Sebelumnya, dia pernah berjualan tengkleng keliling, namun terpaksa berhenti ketika virus Covid melanda pada 2020-an.

Meskipun pembagian MBG di sekolah sempat menimbulkan keracunan, Welas tidak mempermasalahkan itu.

Nggih semua tinggal Gusti yang memberikan ya sudah, wong apa-apa Gusti yang mengatur, yang membuat hidup. Kalau ada [keracunan] itu halangan,” ujarnya.

Mungkin Anda tertarik:

  • Satu tahun MBG: Seratusan yayasan mitra MBG terafiliasi dengan orang dekat pejabat
  • Sekolah-sekolah yang mengelola dapur mandiri di tengah ribuan kasus keracunan MBG
  • Ribuan siswa keracunan Makan Bergizi Gratis, orang tua trauma dan larang anaknya konsumsi MBG – ‘Bukannya meringankan malah mau membunuh’

Wakil Satgas MBG Kota Solo, Purwanti mengungkapkan bahwa SPPG di Solo hingga saat ini belum mendistribusikan MBG untuk lansia di wilayahnya.

“Belum [MBG lansia]. Kita prioritaskan di balita, ibu hamil dan ibu menyusui,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Solo, Hernawaty bilang bahwa hingga saat ini pihaknya belum mengetahui mengenai petunjuk hingga aturan dari Kemensos mengenai program MBG lansia.

“Kalau MBG lansia, saya belum tahu juknisnya. Jadi kan mestinya kalau dia bilang MBG hampir mirip dengan sekolahan, dikelolanya apakah seperti itu dan sasarannya siapa kan kita juga belum tahu. Juknisnya seperti apa, dasar acuan aturan bagaimana juga belum tahu,” ucapnya.

Hernawaty juga belum mengetahui apakah program MBG lansia akan menggantikan Program Permakanan Kemensos yang sebelumnya telah bergulir.

“Hanya ganti nama ataupun mungkin ganti operator ya? Operatornya kan sekarang pokmas, mungkin diganti dapur MBG tapi untuk distribusinya enggak tahu,” katanya.

Di Solo, Program Permakan Kemensos terdapat di dua kecamatan, yakni Banjarsari dan Jebres, dengan jumlah penerima sebanyak 43 lansia.

Apa itu MBG lansia dan bagaimana pelaksanannya?

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau disapa Gus Ipul berkata lembaganya tengah mempersiapkan MBG untuk lansia dan disabilitas pada 2026, dengan total anggaran sekitar Rp1,18 triliun per tahun.

“MBG untuk lansia terlantar di atas usia 75 tahun ada 100 ribu lebih. Kemudian MBG untuk penyandang disabilitas, tapi memang baru 36 ribu belum banyak. Mudah-mudahan lah ini lagi kita proses,” kata Gus Ipul kepada wartawan, Kamis (08/01).

Gus Ipul juga bilang rencana itu sudah mendapat persetujuan Presiden Prabowo Subianto dan kini dalam persiapan di lembaganya.

Gus Ipul berkata harga satu porsi MBG sebesar Rp15.000, yang akan diberikan dua kali sehari.

MBG lansia disediakan oleh kelompok masyarakat (pokmas) di sekitar lokasi penerima manfaat. Satu pokmas akan menyediakan minimal 40 porsi MBG.

“Ini kelompok masyarakat, jadi informal. Kelompok masyarakat setempat yang biasanya dibentuk oleh RT/RW atau oleh kelurahan gitu, ibu-ibu PKK,” ujar Gus Ipul.

Hal ini berbeda dengan MBG oleh Badan Gizi Nasional (BGN) yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Selain itu, Kemensos juga akan menyediakan caregiver atau pengasuh untuk merawat para lansia. Saat ini, para pengasuh masih dalam proses pelatihan.

Gus Ipul menjelaskan program MBG lansia ini merupakan transformasi dari program sebelumnya yang bernama Program Pemakanan, seperti peningkatan menu dan tempat makan.

https://www.instagram.com/p/Clm7LcwpPb5/?img_index=1

Dalam program Permakanan ada beberapa kriteria lansia penerima bantuan, yaitu:

  1. Miskin atau tidak mampu,
  2. Berusia 75 tahun atau lebih,
  3. Terdaftar dalam DTKS,
  4. Bukan berstatus sebagai pensiunan/istri/suami PNS dan atau purnawirawan TNI/Polri,
  5. Memilki NIK dan nomor Kartu Keluarga.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menargetkan penyaluran MBG akan merata di seluruh desa pada 2026, yang menyasar pelajar, ibu hamil, hingga lansia.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menargetkan program MBG dapat menjangkau 82,9 juta penerima manfaat pada 2026.

Pemenuhan gizi lansia lebih kompleks

Associate Professor Monash University Indonesia bidang Kesehatan Publik, Grace Wangge berkata pemenuhan kebutuhan gizi untuk lansia lebih kompleks dibandingkan dengan kelompok lain.

“Kalau anak-anak, apalagi di sekolah, ada guru dan orang tua yang mengawasi. Kalau lansia adalah orang dewasa yang punya keinginan sendiri, kebiasaan sendiri, latar belakang penyakit dan kesehatan yang berbeda-beda. Sehingga variasinya lebih banyak. Sedangkan sistem MBG sekarang kan semuanya disamakan diseragamkan,” kata Grace.

Grace Wangge menyebut ada beberapa aspek penting dalam pemberian MBG pada lansia.

Pertama dari segi tekstur dan rasa. Lansia membutuhkan makanan yang lebih lembut dan enak karena sistem pencernaan serta pengecapan yang menurun.

“Kalau mereka tidak suka, otomatis tidak dimakan biasanya. Apalagi mereka yang sudah ada gangguan fungsi kognitif, atau sudah ada demensia, itu kadang-kadang lupa makan. Kondisi-kondisi kesehatan seperti ini harus jadi perhatian,” kata Grace.

Kedua adalah kandungan protein dan karbohidrat yang padat gizi, dengan porsi tak terlalu banyak karena lambung lansia yang mengecil dan metabolisme yang menurun.

“Penggunaan makanan ultra proses yang selama ini dilakukan SPPG mencemaskan, karena justru kadar garam dan gulanya tinggi dan tentunya berbahaya untuk lansia yang sebagian besar hipertensi dan penyakit lain yang butuh diet khusus,” tambahnya.

Kemudian terkait harga Rp15.000 per porsi sekali makan, Grace berkata nilai itu masih cukup, dengan syarat memanfaatkan sumber daya makanan lokal yang melimpah di daerah masing-masing.

Merujuk pedoman pelayanan gizi lanjut usia Kementerian Kesehatan, kurangnya asupan baik zat gizi makro maupun zat gizi mikro banyak dialami oleh lansia.

Selain kurang asupan karbohidrat (11,1%-22,4%), protein (5,7%-22,4%) dan lemak (7,1%-12,5%), lebih dari 70% lansia juga mengalami defisiensi vitamin D.

Ketiga makanan harus bersih dan higienis. Penurunan fungsi dan masalah kesehatan yang dialami lansia akan berdampak buruk jika mereka mengonsumsi makanan yang bermasalah.

“Misalnya lansia makanannya enggak disiapkan dengan baik, keracunan atau infeksi, atau kesedak karena teksturnya. Itu dapat menurunkan kesehatan mereka dan menolongnya akan jauh lebih lama,” ujarnya.

Keempat peran pengasuh untuk mengetahui karakteristik setiap lansia.

“Jadi caregiver ini harus benar-benar memahami masing-masing karakter lansia, seperti masalah kesehatan, kebiasaan, larangan makanan, personalnya, agar makanannya dikonsumsi dengan baik.”

Senada, Diah Satyani dari CISDI juga bilang pemenuhan gizi pada lansia lebih kompleks karena kondisi kesehatan yang cenderung menurun serta, pada banyak lansia, adanya penyakit tidak menular (PTM).

Kondisi itu tambahnya akan memengaruhi kebutuhan menu dan pola makan lansia yang berbeda dari target penerima MBG lainnya.

“Tata kelola MBG yang bermasalah tentu akan meningkatkan aspek kerentanan pada lansia. Risiko yang dialami bukan hanya keracunan, melainkan juga meningkatkan risiko kesehatan yang dapat berimbas pada komplikasi penyakit,” kata Diah.

“Pasalnya, lansia menunjukkan gejala keracunan dan risiko kesehatan yang tidak selalu terlihat. Mereka juga lebih rentan mengalami dehidrasi atau infeksi serius yang sulit dideteksi,” tambahnya.

Selain itu, katanya, pendekatan MBG yang mengandalkan produksi massal membuka celah penggunaan pangan ultraproses tinggi kandungan natrium, gula, lemak, dan paparan zat kimia yang tinggi pada menu makan lansia.

Kajian MBG Seri 2 CISDI menemukan, hanya 17% makanan yang memenuhi standar 30-35% angka kecukupan gizi (AKG) harian, belum lagi sumber pangannya yang homogen.

“Kehadiran pangan yang tidak bergizi seimbang bukan hanya bisa menyebabkan keracunan, tetapi juga meningkatkan berbagai faktor risiko kesehatan terhadap lansia,” kata Diah.

Ahli gizi masyarakat dr. Tan Shot Yen berkata lansia memiliki kerentanan dengan penyakit kronik.

Untuk itu, tambahnya, tidak selayaknya MBG menyamaratakan pangan bagi para lansia.

“Yang mengaku ‘enggak punya masalah kesehatan’ pun bukan karena enggak ada penyakit, tapi belum pernah dicek,” ujarnya.

Guru besar pangan dan gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), Ali Khomsan berpandangan bahwa lansia termasuk dalam kelompok yang rawan gizi.

“Dengan udzurnya umur dan berbagai penyakit degeneratif yang dialami oleh sebagian di antara mereka, maka mungkin harus diperhatikan makanan rendah gula, rendah garam, rendah lemak, rendah kolesterol untuk target spesifik lansia bermasalah gizi,” kata Khomsan.

“Keragaman pangan yang selama ini sudah dicerminkan dari menu MBG, sudah ok dan bisa diteruskan,” tambahnya.

Dia juga bilang dari pengamatan November dan Desember 2025, kejadian keracunan sudah makin berkurang, “dan hal ini menunjukkan semakin berhati-hatinya SPPG dalam menyiapkan makanan, perlu terus dijaga agar keracunan tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Apa yang perlu diperhatikan pemerintah?

Merujuk pada kompleksitas itu, Grace Wangge berkata pelaksanaan MBG lansia harus memiliki petunjuk teknis (juknis) yang jelas, detail dan penuh kehati-hatian.

Tujuannya agar program ini tepat sasaran dalam memperbaiki gizi lansia, hingga mengurangi angka hospitaliasasi lansia yang menjadi beban kesehatan.

“Asal juknisnya jelas, ini bukan sesuatu yang menakutkan. Malah bagus lansia diperhatikan. Cuma yang bikin kita takut itu karena anak-anak saja sudah seperti itu [keracunan], lalu bagaimana dengan lansia,” ujar Grace.

Sementara itu, Diah Satyani dari CISDI berpandangan bahwa pemerintah bisa lebih memberdayakan lansia dengan program-program yang telah ada dan berjalan, seperti program layanan lansia di posyandu.

Dalam program tersebut, katanya, layanan kesehatan mengawasi perilaku hidup sehat, diet seimbang, dan kepatuhan lansia untuk mengonsumsi obat-obatan dan menjalankan perawatan.

“Selain itu, model pemberian makan bagi lansia juga bisa melalui skema subsidi untuk bahan pangan segar, sehat, dan bergizi seimbang, seperti di Australia,” katanya.

Kemudian, ujar Diah, pemerintah juga bisa memperkuat pelibatan komunitas untuk pemberian makan lansia, sebagaimana intervensi yang ada di posyandu selama ini.

Sebagai contoh, ujarnya, di Thailand dan Vietnam yang melibatkan komunitas dalam pelayanan lansia, termasuk untuk pemberian makan.

“Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya memfokuskan sumber daya untuk kembali pada penguatan layanan kesehatan primer yang sudah memberikan layanan terintegrasi bagi lansia,” tambahnya.

Wartawan Kamal di Semarang dan Fajar Sodiq di Solo berkontribusi dalam artikel ini.

  • Paket MBG liburan sekolah dianggap tidak sehat karena ada makanan UPF – ‘Di negeri yang kaya pangan, ini menyiksa namanya’
  • Lebih dari 1.000 siswa di Bandung Barat diduga keracunan MBG – ‘Anak saya kejang-kejang, sesak nafas’
  • Ribuan kasus keracunan, SPPG terus beroperasi – ‘Sertifikat laik kebersihan sedang diurus’
  • Apakah korban keracunan Makan Bergizi Gratis bisa menggugat pemerintah secara hukum?
  • Prabowo instruksikan rapid test MBG – Apakah efektif cegah keracunan dan keberulangan status KLB?
  • Keracunan massal MBG di NTT – ‘Perut seperti tertusuk, saya trauma’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *