Rupiah masih sulit menguat, cek proyeksinya untuk Kamis (7/1/2026)

Posted on

caristyle.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih belum mampu bangkit di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (7/1/2026).

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 16.780 per dolar AS, melemah 0,13% dibandingkan penutupan sesi sebelumnya di Rp 16.758. Sejalan dengan itu, kurs rupiah Jisdor melemah Rp 23 atau 0,14% menjadi Rp 16.785 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mencermati pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang memberikan sinyal beragam terkait arah suku bunga.

Rupiah Tertekan Penguatan Dolar, Begini Proyeksinya Kamis (7/1/2026)

Gubernur The Fed Stephen Miran menyampaikan bahwa aktivitas bisnis Amerika Serikat (AS) masih solid, namun kondisi tersebut dinilai tetap membenarkan perlunya suku bunga yang lebih rendah.

Di sisi lain, Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin menilai suku bunga dana Fed saat ini berada di level netral, sehingga tidak mendorong maupun menahan aktivitas ekonomi.

Berdasarkan kontrak berjangka dana Fed, peluang suku bunga acuan AS tetap bertahan pada pertemuan 27-28 Januari 2026 mencapai sekitar 82%.

Meski demikian, ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed sebanyak dua kali sepanjang tahun ini, ditambah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung, turut menjaga sentimen pasar global tetap berhati-hati.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah katalis yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis (8/1/2026).

Salah satunya adalah rilis data penggajian non-pertanian (non-farm payrolls) AS periode Desember yang dijadwalkan pada Jumat, yang menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga The Fed.

Harga Emas Masih Tinggi, Investor Sebaiknya Ambil Langkah Ini

“Kekuatan pasar tenaga kerja merupakan pertimbangan utama bagi Federal Reserve dalam mengubah suku bunga,” jelas Ibrahim, Kamis (7/1/2026).

Selain itu, dinamika geopolitik global juga tetap menjadi perhatian, terutama pergerakan risiko keamanan dan hubungan internasional yang dapat memicu permintaan safe-haven terhadap dolar AS.

Untuk perdagangan Kamis (8/1/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan masih berada di bawah tekanan, di kisaran Rp 16.780 – Rp 16.810 per dolar AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *