Saham ambles, BCA (BBCA) bakal buyback saham maksimal Rp5 triliun

Posted on

caristyle.co.id , JAKARTA — PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengumumkan rencana pembelian kembali saham (shares buyback) dengan nilai maksimal Rp5 triliun. Rencana ini seiring dengan saham BCA yang ambles 6% ke level Rp7.025 per saham pada penutupan perdagangan Rabu (28/1/2026). 

Buyback dilakukan sebagai upaya mendukung stabilitas pasar modal, meningkatkan kepercayaan investor, serta memberikan imbal hasil yang lebih optimal bagi pemegang saham. 

Rencana buyback tersebut akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Maret 2026. 

: Syarat Saldo Minimal Gabung Nasabah BCA Prioritas 2026

Apabila disetujui, pelaksanaan buyback akan berlangsung selama 12 bulan sejak tanggal persetujuan RUPST, kecuali diakhiri lebih cepat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 

EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyampaikan bahwa aksi korporasi ini merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika pasar modal.

: : BCA (BBCA) Targetkan Kredit Tumbuh 8-10% di RBB 2026, NIM Turun ke 5,4-5,6%

“Periode shares buyback akan dilaksanakan selama 12 bulan sejak disetujuinya rencana shares buyback oleh RUPST, kecuali diakhiri lebih cepat oleh Perseroan dengan memperhatikan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujar Hera dalam keterangan resminya, Rabu (28/1/2026). 

Adapun nilai pembelian kembali saham ditetapkan sebesar-besarnya Rp5 triliun, termasuk biaya perantara pedagang efek serta biaya lain yang terkait. Jumlah saham yang dapat dibeli kembali tidak akan melebihi 10% dari modal disetor perseroan. 

Majemen menegaskan, pelaksanaan buyback tidak akan mengakibatkan penurunan modal di bawah batas minimum sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait kewajiban penyediaan modal minimum bank umum. 

Selain itu, BCA menilai aksi buyback ini tidak akan berdampak material terhadap kinerja keuangan maupun kegiatan usaha perseroan. 

Dalam pelaksanaannya, BCA tetap berpegang pada prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) serta kepatuhan terhadap seluruh ketentuan yang berlaku. “Pelaksanaan shares buyback ini tidak memiliki dampak material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha BCA,” tutup Hera .

Berikut perkiraan jadwal dan pembatasan jangka waktu shares buyback:

– Pengumuman Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) sehubungan dengan rencana pelaksanaan shares buyback : 28 Januari 2026

– Pengumuman Keterbukaan Informasi mengenai rencana pelaksanaan shares buyback : 28 Januari 2026

– Tanggal persetujuan RUPST mengenai pelaksanaan shares buyback : 12 Maret 2026

– Periode pelaksanaan shares buyback : 12 (dua belas) bulan sejak disetujuinya rencana shares buyback oleh RUPST, kecuali diakhiri lebih cepat oleh perseroan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Saham BCA Ambles dan Tertekan Outflow Investor Asing

Sebagaimana diketahui tercatat menjadi salah satu emiten perbankan dengan tekanan jual asing terbesar pada perdagangan Selasa (28/1/2026). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) saham BBCA sebesar Rp4,1 triliun.

Pada penutupan perdagangan, saham BBCA ditutup terkoreksi 6,33% atau turun 475 poin ke level Rp7.025 per saham. Sepanjang perdagangan, saham bank swasta terbesar di Indonesia itu dibuka melemah seiring sentimen negatif dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Tekanan jual bahkan sempat mendorong saham BBCA menyentuh level terendah intraday di Rp6.925 per saham sebelum akhirnya kembali menguat terbatas dan ditutup di level Rp7.025 per saham. Adapun kapitalisasi pasar BCA tercatat mencapai Rp866,01 triliun.

Sentimen tersebut memang memicu aksi jual asing yang signifikan sehingga memperdalam koreksi harga saham BBCA sepanjang perdagangan. Kondisi ini juga terjadi seiring dengan tekanan luas di sektor perbankan lainnya dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga 8%. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *