
caristyle.co.id JAKARTA. Indeks saham sektor kesehatan mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang 2025, tumbuh 43,78%.
Kenaikan ini sebagian besar didorong oleh penguatan saham lapis kedua atau second liner, seperti PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) dan PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE).
Menurut Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, penguatan sektor kesehatan didorong kombinasi faktor struktural dari sisi permintaan dan fundamental bisnis emiten.
Kepercayaan Konsumen Masih Rendah, Sektor Jasa Keuangan Tetap Tumbuh Pesat
“Dari sisi investor, saham-saham healthcare juga dipandang relatif defensif, terutama untuk menghadapi 2026 yang diperkirakan bergerak pada level pertumbuhan lebih moderat,” kata Indy kepada KONTAN, Jumat (2/1/2025).
Memasuki 2026, Indy menilai prospek sektor kesehatan masih menarik, meski laju pertumbuhan kinerjanya tidak seagresif periode pasca-pandemi Covid-19.
SRAJ Chart by TradingView
Faktor-faktor seperti keberlanjutan belanja kesehatan nasional, ekspansi kapasitas layanan, dan efisiensi operasional emiten menjadi kunci penentu kinerja sektor ini.
Namun, investor perlu mewaspadai risiko, termasuk potensi tekanan biaya operasional, perubahan regulasi, dan dinamika tarif layanan.
Permintaan Solusi Keamanan Siber Meningkat, Pasar RI Berpotensi Tumbuh Pesat
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menambahkan bahwa penguatan saham sektor kesehatan pada 2025 lebih banyak dipicu oleh aksi korporasi, isu masuknya investor strategis, dan ekspektasi pasar terhadap perubahan arah bisnis.
“Dari sisi kinerja keuangan, sebagian emiten second liner masih mencatatkan kerugian atau profitabilitas yang belum stabil. Kenaikan harga saham lebih mencerminkan ekspektasi investor terhadap masa depan,” ujarnya.
Ekky memproyeksikan, meski prospek sektor kesehatan tetap positif secara struktural, potensi penguatannya pada 2026 tidak akan seagresif tahun lalu.
Permintaan layanan kesehatan, baik rumah sakit, farmasi, maupun alat kesehatan, diperkirakan tetap stabil dan defensif. Namun, pasar akan lebih selektif, menuntut realisasi pertumbuhan laba, efisiensi operasional, dan return yang jelas dari belanja modal.
Sektor Mamin Tumbuh 6,15%, Industri Biskuit Diprediksi Stabil
Selain itu, dengan valuasi yang sudah naik pada sebagian saham kesehatan, risiko koreksi jangka pendek perlu diantisipasi.
Ekky menyarankan pendekatan selektif, terutama pada emiten besar seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), yang dinilai memiliki valuasi lebih rasional dan fundamental lebih stabil.
Untuk saham lapis kedua, Ekky menyoroti PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) sebagai saham yang menarik karena konsisten melakukan ekspansi bisnis.
“Volatilitas saham second liner cenderung tinggi dan sangat sensitif terhadap sentimen pasar, sehingga manajemen risiko menjadi penting,” kata Ekky.
Sejumlah Ekonom Proyeksikan Bisnis Perbankan pada Tahun 2026 Akan Tumbuh Moderat
Sementara itu, Indy menilai PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) masih menarik untuk dikoleksi. Saham MIKA didukung fundamental yang solid dan posisi keuangan kuat, dengan target harga Rp 2.770 per saham.



