
Perang antara Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran telah berlangsung sepekan lamanya. Selama sepekan, perang ini sudah memakan ribuan korban jiwa.
Jumlah korban terbanyak berasal dari Iran, yang mencapai seribuan warga sipil tewas karena gempuran dua negara tersebut. Selama sepekan pula, Iran tak tinggal diam. Mereka terus balas menyerang, sampai menyasar ke sejumlah negara-negara Teluk Arab, seperti Kuwait, Uni Emirat Arab dan Qatar, tempat pangkalan-pangkalan Amerika Serikat berada.
Meski begitu, presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyampaikan penyesalannya dan meminta maaf, sebab itu adalah satu-satunya cara agar mereka dapat bertahan. Sampai hari ini pula, perang belum menunjukkan skala de-eskalasi. Berikut rangkumannya.
1.322 Warga Sipil di Iran Tewas Akibat Serangan Israel-AS
Iran menyebut korban sipil akibat serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terus bertambah. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengungkapkan bahwa lebih dari seribu warga sipil tewas dalam serangan tersebut.
“Penilaian awal kami menunjukkan bahwa beberapa insiden ini mungkin diakibatkan oleh pencegahan atau gangguan oleh sistem pertahanan Amerika Serikat, yang dapat mengalihkan sasaran dari target militer yang dimaksud,” kata Iravani dilansir Reuters.

Selain korban jiwa, Iran juga melaporkan ribuan warga lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Menurut Iravani, Iran mengeklaim hanya menargetkan situs militer ketika melakukan serangan balasan terhadap musuhnya.
“Pemilihan pemimpin Iran akan berlangsung sepenuhnya sesuai dengan prosedur konstitusional kami dan semata-mata atas kehendak rakyat Iran tanpa campur tangan asing,” tegas dia.
Presiden Iran Minta Maaf karena Menyerang Negara Tetangga
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga yang ikut terkena dampak serangan Iran. Serangan tersebut sebelumnya menargetkan pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah.
“Saya harus meminta maaf atas nama pribadi dan atas nama Iran kepada negara-negara tetangga yang diserang Iran,” kata Pezeshkian seperti dikutip dari AFP.

Ia menjelaskan bahwa Iran menyerang sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Yordania, dan Bahrain sebagai respons terhadap operasi militer Israel dan Amerika Serikat.
“Dewan kepemimpinan sementara kemarin sudah sepakat tidak akan lagi menyerang negara tetangga,” sambung dia.
Israel Luncurkan Serangan Baru ke Teheran, Trump Tuntut Iran Menyerah
Israel kembali melancarkan gelombang serangan besar ke ibu kota Iran, Teheran. Serangan ini menjadi bagian dari eskalasi konflik yang terus meningkat sejak akhir Februari.
“Tak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali menyerah tanpa syarat,” kata Trump seperti dikutip dari AFP.

Serangan terbaru Israel disebut menyasar berbagai target milik pemerintah Iran di Teheran. Sementara itu, Komando Pusat AS mengeklaim telah menghancurkan sekitar 3.000 target di Iran dalam sepekan terakhir.
Laporan media Iran menyebut sejumlah ledakan terdengar di bagian barat Teheran, meski detail kerusakan dan korban belum diungkap secara rinci.
Saat Trump Bicara Tentukan Pemimpin Baru Iran hingga Akhiri Perang
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan ingin terlibat dalam proses penentuan pemimpin baru Iran setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan Israel-AS.
“Kami ingin terlibat dalam proses pemilihan sosok yang akan memimpin Iran di masa depan,” ujar Trump seperti dikutip dari Reuters.

Trump juga mengeklaim Iran sempat menghubungi Gedung Putih untuk membahas kemungkinan kesepakatan guna mengakhiri perang. Namun ia mengatakan permintaan itu datang ketika operasi militer masih terus berlangsung.
“Saya bilang, kalian agak terlambat. Kami ingin berperang sekarang lebih dari mereka,” ujarnya.
Iran Siapkan Gelombang Serangan ke-23, Target AS dan Israel
Di tengah eskalasi konflik, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan dimulainya gelombang serangan ke-23 yang menargetkan Amerika Serikat dan Israel.

Serangan tersebut dilaporkan muncul bersamaan dengan peluncuran sejumlah rudal dari Iran menuju Israel. Militer Israel juga mengkonfirmasi adanya upaya pencegatan terhadap rudal-rudal tersebut.
Gelombang serangan ini menunjukkan konflik antara Iran dengan Israel dan AS masih terus meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.



