S&P wanti-wanti beban bunga utang RI, rupiah bisa makin terperosok

Posted on

caristyle.co.id – JAKARTA. Lembaga pemeringkat S&P Global memberikan peringatan terhadap peningkatan risiko profil kredit Indonesia. 

Hal ini berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah, meski pelemahan mata uang Garuda sebenarnya sudah berlangsung secara struktural dalam beberapa tahun terakhir.

Seperti diketahui, Analis sovereign S&P, Rain Yin, mengungkapkan pembayaran bunga utang pemerintah sangat mungkin melampaui ambang batas krusial 15% dari total pendapatan negara pada tahun lalu. Level ini selama bertahun-tahun menjadi batas aman yang konsisten dijaga Indonesia.

Jika rasio tersebut bertahan di atas 15% secara berkelanjutan, S&P membuka peluang pandangan yang lebih negatif terhadap peringkat kredit Indonesia.

Nasib IHSG dan Arus Dana Asing Pasca Peringatan Lembaga Pemeringkat Global

Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, berpandangan sinyal risiko yang disoroti S&P Global Ratings bukan hal yang muncul tiba-tiba. 

Yanuar melihat tanda-tanda kerentanan fiskal sudah terlihat sejak 2025, terutama dari penurunan penerimaan negara yang sangat bergantung pada pajak.

Menurutnya, pelemahan daya beli masyarakat sejak 2022 menjadi salah satu akar persoalan. Hal ini tercermin dari tren “makan tabungan” pada nasabah dengan saldo di bawah Rp 100 juta, disertai kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) pada pinjaman online dan kartu kredit.

Ia menambahkan, penurunan porsi konsumsi terhadap produk domestik bruto (PDB) juga mengindikasikan tekanan pada sisi permintaan domestik, meskipun data resmi masih menunjukkan pertumbuhan ekonomi.

Yanuar menambahkan, rasio debt service ratio (DSR) Indonesia sebenarnya sudah tinggi sejak lama, meskipun kerap tertutupi oleh indikator debt to GDP ratio. 

Menurutnya kondisi tersebut tercermin dari tren pelemahan rupiah yang berlangsung panjang, bahkan sejak indeks dolar AS berada di level 97 pada 2016 hingga saat ini. 

Maka ketika utang jatuh tempo meningkat dan selama ini ditutup dengan penerbitan utang baru, maka beban pembayaran bunga juga akan naik sebagaimana disoroti S&P Global Ratings.

IHSG Terkoreksi 0,43% Sepanjang Pekan Ini, Cermati Prospeknya untuk Pekan Depan

“Jadi tanpa isu rating pun, secara calculated risk rupiah memang sudah melemah. Peringatan rating itu lebih sebagai konfirmasi yang sekaligus menambah isu, jadi makin lemah,” ujar Yanuar kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).

Sebelumnya, Moody’s Ratings lebih dulu mengubah outlook Indonesia menjadi negatif dari stabil pada awal Februari. 

Lembaga itu menyoroti melemahnya tata kelola dan meningkatnya risiko fiskal di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Yanuar pun mengingatkan, pelemahan rupiah ke depan bisa makin tajam apabila terjadi gagal fiskal, baik dalam bentuk kegagalan membayar bunga, utang jatuh tempo, maupun tekanan berat pada belanja APBN.

Meski demikian, selama skenario gagal fiskal belum terjadi dan Bank Indonesia (BI) masih memiliki ruang intervensi, Yanuar memperkirakan rupiah masih bergerak di kisaran Rp 16.700 – Rp 17.500 per dolar AS, atau berpotensi melebar ke rentang Rp 17.000 – Rp 18.000.

Namun ia mengingatkan, apabila tekanan fiskal memburuk dan diikuti langkah lembaga pemeringkat lain seperti Fitch Ratings, maka pelemahan rupiah berisiko menembus di atas proyeksi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *