Tampang pembunuh guru SD Depok yang sudah 3 bulan buron

Posted on

Pelaku pembunuhan guru SD di Depok Arifianti (41 tahun) masih buron hingga saat ini. Arifianti ditemukan tewas di wilayah Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (6/12) malam dengan kondisi tangan terikat.

Sudah tiga bulan pelakunya belum juga tertangkap. Kini polisi menerbitkan daftar pencarian orang (DPO) untuk pelaku bernama Muhammad Syamun Al Ghozi itu.

Dalam poster DPO yang diterima kumparan, tertulis Syamun lahir di Kebumen pada 16 Februari 1999. Pria itu diperkarakan dengan Pasal 458 KUHP dan Pasal 466 ayat (3) KUHP terkait pembunuhan atau penganiayaan yang menyebabkan kematian.

Syamun tertulis beralamat di Jalan Cemara 1, Baktijaya, Sukmajaya, Kota Depok.

Kapolsek Gunung Putri, Kompol Aulia Robby membenarkan informasi dalam poster tersebut. Ia bilang pelaku masih berstatus DPO.

“Iya betul, itu pelaku,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (15/3).

Polisi meminta masyarakat menghubungi penyidik Polsek Gunung Putri bila mengetahui keberadaannya melalui nomor telepon 021-8671405 atau lewat WhatsApp 081314649848. Bisa juga melaporkan lewat call center Polri di 110.

Teman Dekat Korban

Sebelumnya Aulia mengungkapkan pelaku memiliki hubungan dengan korban. Dia adalah teman dekat korban.

“Bukan mantan suami. Pelaku masih kita buru dengan status DPO. Diduga pelaku adalah teman dekat korban,” kata Aulia pada Senin (26/1).

Ia menuturkan pelaku melarikan diri sejak kasus pembunuhan itu viral.

“Kami sudah mengirim surat pemanggilan sebanyak tiga kali, namun yang bersangkutan mangkir. Ternyata sudah tidak ada di rumah sejak setelah kasus ini viral,” ujarnya.

Dibonceng Seseorang

Dayat (45 tahun), pemilik warung dekat lokasi mayat Arifianti ditemukan, menceritakan bahwa ada seorang pemotor yang sempat melihat Arifianti.

Saat dilihat, Arifianti sedang dibonceng seseorang, di motor. Nah, kaki Arifianti terkatung-katung bahkan hingga menyeret aspal. Kemudian, menurut Dayat, ada pemotor lain yang menegur.

“Awalnya motor itu lewat dari arah Cileungsi ke Citeureup, udah ditegur sama orang, karena kaki yang dibonceng itu udah nyeret ke aspal, luka-luka. Takut sakit atau apa kan,” kata Dayat saat ditemui di warungnya, Selasa (9/12).

“‘Pak itu ibunya kakinya ngeplek’, dijawabnya apa, nggak tahu, langsung jalan aja itu motornya,” ucap Dayat.

Pemotor yang menegur tersebut pulang, lalu melihat berita di media sosial soal penemuan mayat, teringat soal kejadian yang dia saksikan sebelumnya. Dia menduga, saat itu bisa jadi pemotor membonceng mayat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *