
caristyle.co.id JAKARTA. Sejumlah emiten tengah bersiap untuk melakukan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) alias rights issue pada awal 2026.
Terbaru ada, PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) yang mengantongi restu dari pemegang saham untuk menggelar rights issue. ELPI berencana untuk menerbitkan 2,03 miliar saham.
Wawan Heri Purnomo, Sekretaris Perusahaan Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari menjelaskan manajemen telah pelaksanaan rights issue di level Rp 350 per saham. Artinya, ELPI berpotensi meraup Rp 739,34 miliar.
Adapun setiap pemegang saham yang memiliki 200 saham ELPI yang tercantum dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 5 Mei 2026, berhak atas 57 HMTED.
Cermati Saham Net Buy Terbesar Asing Saat IHSG Kembali Terkoreksi, Kamis (12/3)
“Dana yang diperoleh dari hasil rights issue ini setelah dikurangi biaya terkait aksi korporasi ini seluruhnya akan digunakan oleh ELPI, entitas anak dan/atau afiliasinya untuk beberapa hal,” kata Wawan.
Ada tiga emiten lainnya yang masih menunggu restu pemegang saham untuk mengeksekusi rights issue, yakni PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dan PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO).
BNBR berencana menerbitkan sekitar 86,7 miliar saham biasa seri E dari total rencana penerbitan hingga 90 miliar saham baru. Emiten Grup Bakrie ini menetapkan rasio sebesar 2:1.
Sementara itu, TOBA akan menawarkan sekitar 1,39 miliar saham. Dana hasil rights issue ini akan digunakan untuk pengembangan usaha di lini pengelolaan limbah, energi terbarukan dan kendaraan listrik.
COCO juga akan melakukan right issue tahap III. Rencannya, emiten produsen kakao dan coklat asal Sumedang ini akan menerbitkan hingga 10,67 miliar saham baru dengan waran hingga 35% dari jumlah saham beredar.
Adapun dana segar hasil aksi korporasi ini akan difokuskan untuk akuisisi dan belanja modal, memperkuat ekspansi bisnis, serta meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan peluang keberhasilan rights issue di tengah pasar fluktuatif sangat bergantung pada kepastian pembeli siaga dan tujuan penggunaan dana.
“Kalau rights issue berhasil di tengah market fluktuatif, itu sangat bergantung pada kepastian standby buyer maupun tujuan penggunaan dana,” jelasnya kepada Kontan, Kamis (12/3).
Nafan menilai penggunaan dana untuk ekspansi bisnis cenderung lebih diapresiasi investor dibandingkan sekadar melunasi utang lama yang dinilai kurang menarik bagi pasar.
Menurutnya, keberadaan standby buyer menjadi faktor penting untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap aksi rights issue emiten, terutama di tengah fluktuasi pasar saham Indonesia.
Nafan menilai rights issue yang berpotensi menarik antara lain milik TOBA karena diarahkan untuk ekspansi sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik.
Sementara itu, Nafan juga mencermati rencana rights issue BNBR, yang dana segar-nya akan digunakan untuk penguatan pendanaan proyek jalan tol guna meningkatkan pendapatan berulang.
Namun dia menilai sebagian besar emiten yang berencana rights issue masih berkapitalisasi kecil hingga menengah sehingga investor cenderung menunggu sinyal masuknya dana besar.
“Biasanya kalau smart money masuk baru saya berani rekomendasikan, tapi saat ini masih wait and see,” ucap Nafan.
Dia menambahkan rendahnya likuiditas juga menjadi tantangan bagi beberapa emiten seperti COCO sehingga investor lebih berhati-hati. Dari keempat emiten itu, Nafan merekomendasikan wait and see.
Dibayangi Sentimen Geopolitik, Begini Prospek Pasar Obligasi



