
Pada Oktober 2025, gelombang duka menyelimuti Indonesia dengan terungkapnya tiga kasus bunuh diri yang melibatkan remaja belasan tahun. Di Sukabumi, Jawa Barat, seorang remaja perempuan berusia 14 tahun diduga mengakhiri hidupnya setelah mengalami kekerasan verbal dari teman-temannya. Sementara itu, dua insiden serupa mengejutkan publik di Sawahlunto, Sumatra Barat.
Para pemerhati anak menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai maraknya kasus bunuh diri pada remaja di Indonesia. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, sepanjang tahun 2025 saja, terdapat 25 anak di Indonesia yang meninggal karena bunuh diri. Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, menjelaskan bahwa sebagian besar kasus ini dipicu oleh bullying atau perundungan, termasuk yang terjadi di lingkungan sekolah.
Meskipun angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2023 dengan 46 kasus dan 43 kasus pada tahun 2024, fenomena ini tetap menjadi sorotan serius. Lalu, mengapa masalah bunuh diri di kalangan remaja kini semakin marak terjadi?
Peringatan: Artikel ini memuat konten tentang bunuh diri yang mungkin dapat membuat Anda merasa tidak nyaman.
Duka Mendalam untuk Ajeng di Sukabumi
Remaja 14 tahun yang akrab disapa Eneng, telah berpulang untuk selamanya. Jasadnya dimakamkan pada Rabu (30/10) pagi di Desa Bojong, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kepergian Ajeng, yang dikenal ceria dan berprestasi, meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, terutama sang ayah yang harus kembali dari perantauan di Kalimantan untuk mengantarkan putrinya ke peristirahatan terakhir.
“Di lingkungan, dia itu anak yang rajin, salat juga enggak usah disuruh juga sudah salat kalau waktunya. Alhamdulillah aktif dan berprestasi, dari kelas VII dan VIII dapat juara dua di kelasnya,” tutur Topik Walhidayat, paman korban, mengenang keponakannya. Ia menambahkan, “Dia punya cita-cita yang tinggi, sempat bilang ingin masuk kedokteran [jadi dokter].”
Ajeng ditemukan tak bernyawa oleh neneknya pada Selasa (28/10) malam. Sekitar pukul 23.00 WIB, sang nenek beranjak dari kamar untuk mengambil air, namun langkahnya terhenti di depan pintu kamar cucunya karena merasa ada sesuatu yang menghalangi. Ketika lampu dinyalakan, tubuh Ajeng tergantung di pintu kamar. Jeritan neneknya sontak membuat warga berdatangan.
“[Penglihatan] neneknya kurang jelas saat keluar, pas jalan ada yang menghalangi. Itu [jasad] menggantung, menghalangi pintu. Si nenek teriak, karena ternyata si cucu,” ujar Sekretaris Desa Bojongkaler, Dede Nuryadin. Tim dari kepolisian, danramil, puskesmas, hingga satpol pamong praja tiba di lokasi sekitar pukul 00.00 WIB. Sejak malam tragis itu, suasana di rumah sederhana di ujung gang kecil tersebut tak lagi sama. Ajeng tinggal bersama ibu dan neneknya, sementara ayahnya bekerja di Kalimantan. Sosoknya dikenal baik, rajin, aktif, dan berprestasi di sekolah.
Apa yang Melatari Kasus Ini?
Dugaan adanya bullying atau perundungan mencuat setelah keluarga korban menemukan secarik surat yang diyakini ditulis tangan oleh Ajeng. Surat curahan hati yang ditulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia itu mengungkap keluh kesahnya. “Eneng baru saja dibuat sakit hati oleh perkataan teman di kelas oleh ucapan, sikap. Eneng sudah capek, Eneng cuma mau ketenangan,” demikian sepenggal isi surat tersebut.
Topik, paman korban, menyatakan bahwa keluarga menyerahkan sepenuhnya penyelidikan kematian Ajeng kepada kepolisian. Namun, mereka meyakini kuat bahwa isi surat tersebut mengarah pada perundungan di lingkungan sekolah. “Pihak keluarga meyakini [ada bullying], karena di situ ada surat wasiat mengarah ke perundungan,” ucapnya.
Ajeng bahkan sempat mengeluh ingin pindah sekolah, merasa tidak nyaman dengan teman-temannya. Dua minggu sebelum kejadian, ibunya juga sempat menyampaikan dugaan bullying ini kepada wali kelas. Hanya saja, menurut keluarga, keluhan tersebut tidak mendapat tanggapan serius. Wali kelas, kata Topik, tidak mau mendengar dari sepihak dan meminta korban untuk berbicara langsung. Setelah Ajeng menyampaikan keluhannya, wali kelas kemudian meneruskan kepada terduga perundung. “Disampaikan kepada orang itu dan terduga perundung itu jadi balik marah sampai mengeluarkan bahasa ‘anak mama’ gitu. Itu pun sudah salah satu perundungan yang masuk ke psikis,” beber Topik.
Pihak keluarga menolak upaya damai, menegaskan bahwa apa yang menimpa Ajeng bukan sekadar salah paham, melainkan menyangkut nyawa. Oleh karena itu, mereka menuntut agar proses hukum terus berjalan.
Bagaimana Tanggapan Pihak Sekolah?
Pihak sekolah sempat menampik adanya bullying atau perundungan dalam kasus Ajeng, meskipun belakangan mengakui ada perselisihan dengan kakak kelas korban. Kepala Sekolah MTs Negeri 3 Cikembar, Wawan Setiawan, mengklaim pihaknya tidak menemukan indikasi perundungan selama Ajeng belajar di sekolahnya. “Ananda A [Ajeng] itu siswa berprestasi, aktif di Pramuka Garuda, bahkan baru menjadi petugas pengibar bendera. Kalau anak dalam tekanan, rasanya sulit bisa fokus dalam kegiatan seperti itu,” klaim Wawan.
Menurutnya, sekolah telah melakukan mediasi setelah mengetahui ada perselisihan antara korban dengan kakak kelasnya. Guru Bimbingan Konseling dan wali kelas, katanya, sudah menengahi masalah tersebut. “Secara kasat mata mereka sudah rukun kembali. Kami sekolah ramah anak, bullying itu haram hukumnya di sini,” akunya.
Terpisah, Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi membenarkan adanya perselisihan verbal antara korban dan kakak kelasnya. “Ada statement dari almarhum kemudian kakak kelasnya enggak enak, akhirnya ada perselisihan tapi enggak sampai ke fisik,” beber Agus Santosa, Kasubag TU Kemenag Kabupaten Sukabumi. Agus juga menjelaskan, perundungan verbal sering kali tidak disadari oleh para siswa. “Kadang ada kalimat seperti ‘manah mah binatang’ (kamu seperti binatang) yang bagi mereka hanya bercanda, padahal sudah masuk kategori perundungan. Itu yang perlu diedukasi,” ujarnya. Ia menegaskan, seluruh pihak, baik keluarga korban maupun siswa yang diduga terlibat, akan mendapatkan pendampingan psikologis dan hukum dari DP3A Kabupaten Sukabumi.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi, Ferry Supriyadi, menyebut kasus yang menimpa Ajeng merupakan tamparan keras bagi daerahnya yang selalu mengklaim sebagai kota ramah anak. “Tapi ada anak yang justru kehilangan nyawa karena tekanan di sekolah. Berarti ada yang tidak beres,” tuturnya. Ia menilai pengawasan di sekolah masih lemah. Guru sering kali hanya melihat permukaan tanpa menyadari beban emosional siswanya. Ferry menekankan perlunya perubahan sistem pendidikan: deteksi dini terhadap perundungan, pelatihan empati bagi guru, dan penyediaan ruang aman bagi anak untuk bercerita. “Dari luar kelihatan damai, padahal di dalam anak mungkin merasa dikucilkan dan disindir. Akibatnya tertekan, depresi,” tambahnya.
Dua Remaja Bunuh Diri di Sawahlunto
Pada Oktober 2025 lalu, dua kasus dugaan bunuh diri yang melibatkan remaja juga terjadi di Sawahlunto, Sumatra Barat. Keduanya ditemukan tak bernyawa di lingkungan sekolah: Arif Nofriadi Jefri, siswa kelas IX SMPN 2 Sawahlunto, dan Bagindo Evan, siswa kelas VIII SMPN 7 Sawahlunto. Jasad Arif ditemukan tergantung di ruang OSIS pada Senin (06/10) malam, sedangkan jasad Bagindo ditemukan tergantung di kelasnya pada Selasa (28/10) siang.
Kematian Bagindo Evan
Suasana duka masih menyelimuti rumah Agusman (65) pada Jumat (31/10), saat belasan orang terus berdatangan mengucapkan belasungkawa atas kematian putranya, Bagindo Evan (15), yang ditemukan gantung diri di salah satu ruang kelas SMPN 7 Sawahlunto. Dengan mata yang masih berkaca-kaca, Agusman tak percaya anak bungsunya mengakhiri hidup dengan cara tragis tersebut. Baginya, Bagindo adalah anak yang sopan dan sering bercanda dengan ketiga kakaknya serta anggota keluarga lainnya. Ia memiliki banyak teman, baik di sekolah maupun di luar sekolah. “Gindo itu anaknya sering bercanda. Dia anaknya baik dan setahu saya dia tidak pernah memiliki masalah dengan siapapun, termasuk temannya,” kata Agusman.
Agusman masih mengingat jelas saat Bagindo berangkat ke sekolah pagi itu dengan gembira, tanpa terlihat tanda-tanda depresi. Namun, beberapa jam kemudian, ia terkejut mendapat kabar dari teman anaknya. “Saat itu saya sedang duduk di rumah dan seorang teman Bagindo datang ke sini dan mengatakan kepada saya kalau anak saya ini sudah gantung diri,” tuturnya sembari menahan air mata. Mendengar kabar itu, Agusman langsung bergegas ke sekolah yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumahnya.
Rasa kaget dan sedih bercampur di benak Agusman saat menyaksikan jasad anaknya tergeletak di lantai dengan dasi masih terpasang di lehernya. “Saya pegang badan Gindo saat itu dan saya usap kepalanya. Saya sangat tidak menyangka dia akan melakukan tindakan itu,” katanya. Agusman juga menyayangkan lambatnya respons guru-guru. “Saat saya sampai di sekolah itu saya tidak melihat guru di sana dan ambulans baru datang sekitar 20 menitan setelah saya sampai di sana,” lanjutnya. Ia merasa jika para guru lebih peduli dan segera memberikan pertolongan saat Bagindo diturunkan oleh teman-temannya, anaknya mungkin masih bisa diselamatkan. “Yang menjemput ambulans itu saja para siswa yang ada di sana dan saat itu tidak ada guru yang mendampingi anak saya saat dibawa menggunakan ambulans,” tambah Agusman.
Saudara Bagindo, Kelvin (17), yang tiba di sekolah sekitar lima menit setelah Agusman, sempat melihat alis Bagindo masih bergerak dan air mata menetes dari mata kirinya. “Menurut saya kalau cepat diberikan pertolongan dia akan selamat,” kata Kelvin penuh sesal.
Kronologi Versi Sekolah soal Kematian Bagindo
Kepala Sekolah SMPN 7 Sawahlunto, Sudirman, menyatakan bahwa kejadian itu bermula saat jam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam yang diajarkan kepada siswa kelas 8. “Karena harus belajar tentang proses pernapasan, guru membawa seluruh siswa ke Laboratorium IPA yang terletak tidak jauh dari kelas yang menjadi TKP bunuh diri itu,” katanya.
Saat pelajaran berlangsung, menurut Sudirman, Bagindo meminta izin kepada gurunya untuk pergi ke toilet. Ketika berada di luar laboratorium, Bagindo meminjam dasi dari salah seorang temannya. “Setelah cukup lama tidak kembali, seorang siswa yang dasinya dipinjam langsung mencari tahu keberadaannya. Saat siswa itu masuk ke kelas, ia langsung terkejut melihat Bagindo sudah tergantung dan ia langsung memanggil dua temannya yang lain,” jelas Sudirman. Ketiga siswa itu, kata Sudirman, berinisiatif menurunkan Bagindo dengan harapan temannya masih bisa diselamatkan. “Setelah diturunkan dan dibaringkan di lantai baru mereka memanggil guru termasuk saya. Saya langsung menuju tempat itu untuk mengecek keadaan Bagindo ini,” katanya.
Meski menyadari aturan untuk tidak menyentuh jenazah dalam kasus penemuan jenazah atau bunuh diri, Sudirman mengaku melanggar hal itu. “Karena dia anak saya di sekolah ini, makanya saya langsung mengecek nadinya, ternyata sudah tidak berdenyut lagi. Saya coba dekatkan tangan saya ke hidungnya, ternyata hidungnya sudah dingin dan saya pegang pipinya juga sudah dingin,” lanjutnya. Sudirman mengklaim langsung memerintahkan seorang guru yang suaminya bekerja di Puskesmas untuk meminta ambulans segera datang. “Memang ambulans lambat datang. Kurang lebih 20 menitan karena sopirnya sedang tidak ada di tempat dan terpaksa harus dihubungi dulu. Bahkan siswa kami juga ada yang menyusul ke Puskesmas agar ambulans segera datang,” katanya. Sudirman juga menyatakan telah menghubungi kepolisian dan dinas pendidikan untuk melaporkan kejadian tersebut melalui telepon seluler. “Setelah polisi datang dan jasad anak kami itu sudah dibawa oleh ambulans saya dan beberapa guru diminta ke kantor Polsek untuk ditanyai dan diperiksa,” kata Sudirman, menjadikan pemeriksaan kepolisian sebagai alasan tidak adanya guru yang mendampingi Bagindo saat dibawa ke Puskesmas Kota Sawahlunto.
Sekolah Klaim Tidak Ada Bullying terhadap Bagindo
Kepala Sekolah Sudirman mengklaim bahwa kasus gantung diri Bagindo di dalam kelas bukan merupakan kasus bullying yang dilakukan oleh siswa lainnya. “Ini murni bunuh diri dan tidak ada kaitannya dengan bullying. Karena kami sangat mengenal anak kami itu. Dia itu juga biasanya lebih memimpin dibanding teman-temannya yang lain. Menurut pengamatan saya juga selama ini di sini tidak ada perlakuan bullying,” katanya. Menurut Sudirman, Bagindo adalah siswa yang biasa-biasa saja di sekolah, tanpa hal menonjol atau banyak permasalahan. “Sepanjang semester ini saja tercatat dia hanya melakukan 2 masalah saja. Pertama soal cabut sekolah dan permasalahan tidak pernah menggunakan dasi,” lanjutnya.
Kasat Reskrim Polres Sawahlunto, Iptu Al Am’ar Faradhiba, menyatakan pihaknya tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuh Bagindo. “Yang kami temukan itu adanya ciri-ciri bunuh diri seperti keluarnya kotoran, keluarnya seni, jeratan di leher dan mulut korban banyak mengeluarkan air liur,” katanya. Kepergian Bagindo membuat Agusman sangat terpukul, terlebih dengan isu-isu yang disebarkan di media sosial. Beberapa isu yang menyatakan anaknya broken home dan tidak mendapatkan perhatian dari keluarga membuat Agusman makin terpukul. “Mereka mengatakan bahwa saya penjudi dan sering memukul istri saya dan itu yang membuat anak saya depresi. Hal itu sangat tidak benar dan saya berani bersumpah,” tuturnya.
Kemungkinan Penyebab Bagindo Bunuh Diri
Agusman masih bertanya-tanya tentang penyebab sang anak sampai melakukan tindakan bunuh diri di sekolah saat jam pelajaran berlangsung. Menurutnya, Bagindo selalu bercerita kepada ibunya soal permasalahan yang tengah dialaminya. “Setelah Bagindo tidak ada, istri saya baru bercerita kepada saya kalau Gindo pernah bercerita kepadanya soal ia mengalami kecelakaan sekitar sepekan sebelum kejadian ini,” katanya.
Dari pernyataan sang istri, Bagindo saat itu meminjam sepeda motor milik kakak iparnya untuk pergi belajar kelompok. Saat perjalanan pulang, sepeda motor yang dikendarai masuk lubang, dan Bagindo yang melihat ke bawah tidak menyadari ada sepeda motor berlawanan arah, menyebabkan kecelakaan. Ternyata, pihak yang terlibat kecelakaan itu adalah guru Bahasa Inggrisnya. Agusman menjelaskan, sepeda motor guru mengalami lecet, sementara Bagindo mengalami luka lecet di tangannya, dan sepeda motor yang dikendarainya rusak parah.
Setelah kecelakaan tersebut, menurut Agusman, ada sedikit perubahan pada diri anaknya. Bagindo yang biasanya bermain dengan teman-temannya sepulang sekolah, kini tidak pernah lagi melakukan kegiatan itu. “Setelah kejadian itu, setelah pulang sekolah dia sering langsung pergi. Setelah kami cari tahu, ternyata dia melakukan pekerjaan serabutan seperti membantu orang memanen jengkol dan nanti diberikan upah,” lanjutnya. “Saya selalu memikirkan itu dan bertanya-tanya apakah guru itu meminta ganti rugi kepada anak saya. Karena keadaan keuangan kami yang memang kurang baik, mungkin dia memutuskan untuk tidak memberitahu keluarga,” kata Agusman. Namun, perkiraan Agusman itu dibantah oleh Kepala Sekolah SMPN 7 Sawahlunto, Sudirman, yang menyatakan bahwa sang guru mengklaim tidak pernah meminta ganti rugi. “Kami sudah menanyai guru yang bersangkutan, katanya tidak ada meminta ganti rugi apapun kepada almarhum dan dia sudah memaafkan kejadian itu,” katanya. Hal senada juga disampaikan oleh Kapolsek Barangin, Ipda Gorrahman, yang telah memeriksa sang guru dan menyatakan pengakuannya tidak pernah meminta ganti rugi, didukung oleh keterangan dua siswa lain yang berboncengan dengan Bagindo.
Kasat Reskrim Polres Sawahlunto, Iptu Al Am’ar Faradhiba, menyatakan bahwa sampai saat ini pihaknya masih mendalami penyebab Bagindo melakukan aksi bunuh diri. “Kami masih melakukan penyelidikan dan ada beberapa barang bukti seperti buku-buku korban, pakaian dan lainnya yang saat ini kami amankan. Pada salah satu buku ada sebuah gambar yang tidak bisa kami ungkapkan ke publik untuk saat ini,” katanya.
Kematian Arif Nofriadi Jefri
Kejadian siswa melakukan aksi bunuh diri di sekolah juga menimpa Arif Nofriadi Jefri, siswa kelas 9 SMPN 2 Sawahlunto, pada 6 Oktober lalu. Ia mengakhiri hidupnya menggunakan seutas tali pramuka sekitar pukul 21.00 WIB di ruang OSIS sekolah. Ibunda Arif, Satria Monalisa (40), membenarkan anaknya ditemukan tak bernyawa di ruang OSIS dan jenazahnya dikebumikan keesokan harinya. “Saat kejadian itu saya sedang sakit. Sebelum kejadian saat sore harinya saya merasa ingin sekali dipeluk oleh Arif dan setelah mandi dia langsung memeluk saya,” katanya.
Setelah itu, Arif langsung pergi bermain keluar seperti biasanya dengan teman-temannya, seringkali ke tempat temannya yang tinggal di asrama sekolah. “Sekitar pukul 20.30 WIB kurang lebih, ada orang yang mengabarkan tentang Arif yang ditemukan meninggal dunia di sekolah dengan keadaan leher terlilit tali pramuka dan badannya ditemukan tergeletak di lantai,” tutur Mona. Ia sangat tidak menyangka anaknya yang biasanya ceria dan sering bercanda itu mengakhiri hidupnya. “Arif itu dia anak yang ceria. Dia punya banyak teman dan setahu saya dia sangat jarang sekali bermasalah dengan orang lain,” katanya.
Mona menilai kemungkinan Arif di-bully sangat kecil, ia menduga penyebabnya adalah masalah asmara. “Masalahnya soal percintaan anak ABG. Arif pacaran dengan seorang siswi di sekolahnya juga yang merupakan anak anggota DPRD di sini,” katanya. Dalam pesan singkat pada ponsel milik Arif yang diperlihatkan oleh Mona, sempat terjadi pertengkaran antara anaknya dengan pacarnya, yang kemungkinan berlanjut melalui telepon. Pada pesan terakhir yang dikirim Arif kepada sang pacar terdapat sebuah foto darah, yang dikomentari oleh pacarnya. Setelah itu, Arif tidak lagi membalas pesan, bahkan teleponnya pun tidak diangkat.
Namun, Mona masih bertanya-tanya tentang beberapa luka lebam dan luka gores pada wajah anaknya yang ditemukan tergantung pada tali yang terikat pada paku di dinding beton sekolah. “Kalau penjelasan dari pihak Kepolisian luka itu dialami kemungkinan karena terbentur meja yang ada di dalam ruangan tersebut,” katanya. Kapolsek Barangin, Ipda Gorrahman, mengatakan kejadian tersebut murni bunuh diri yang dilakukan oleh Arif. “Untuk bekas luka di bagian dagu itu kemungkinan karena tali yang melilit lehernya. Untuk di lokasi TKP kami menemukan adanya paku lain yang digunakan untuk mengikatkan talinya. Saat korban melakukan bunuh diri itu paku tersebut terjatuh dan itu yang mengakibatkan jasad korban tergeletak di lantai,” katanya. Untuk luka memar di bagian dahi korban, menurut Gorrahman, terjadi karena saat jasad korban terjatuh, kepalanya membentur meja yang ada di dalam ruangan tersebut. “Untuk motif bunuh dirinya memang karena pacaran gitu dari penyelidikan yang telah kami lakukan,” katanya.
Bagaimana Tanggapan Pemerintah Daerah Setempat?
Kepala Dinas Pendidikan Kota Sawahlunto, Asril, yang dijadwalkan untuk wawancara terkait dua kejadian bunuh diri pelajar di Sawahlunto, menyatakan bahwa ia sedang rapat tertutup saat dihubungi. Hingga Jumat (31/10) pukul 19.00 WIB, ia tidak kunjung keluar dan menyatakan sedang dalam perjalanan pulang untuk menjemput obat orang tuanya. “Saat ini saya sedang dalam perjalanan menjemput obat untuk orang tua saya, jadi saya tidak bisa. Maaf ya,” katanya saat dihubungi wartawan Halbert Caniago yang melaporkan untuk BBC Indonesia.
Mengapa Kasus Bunuh Diri pada Remaja Marak Terjadi Sekarang?
Para psikolog menjelaskan bahwa ide atau pikiran bunuh diri bukanlah hal yang tiba-tiba muncul. Aksi ini merupakan akumulasi dari pengalaman atau peristiwa negatif yang berlangsung dalam waktu lama, hingga akhirnya ada upaya untuk mengakhiri hidup. Secara teori, kata psikolog Retno Lelyani Dewi, anak usia 0-7 tahun belum memiliki kemampuan berpikir secara konkret dan sulit memahami apa itu kebahagiaan atau penderitaan. Pada usia 7-11 tahun, pemahaman mereka masih terbatas pada objek. Namun, begitu menginjak usia di atas 11 tahun, mereka mulai berpikir secara konkret dan memahami perasaan seperti penderitaan, kebahagiaan, kesepian, terluka, dan merasa tidak dibutuhkan.
Pada fase ini, perkembangan korteks prefrontal—bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi kognitif seperti pengambilan keputusan dan risiko—belum optimal. Akibatnya, remaja kesulitan mengontrol emosi atau stres yang datang. “Saat ada badai [emosi], tekanan stres, remaja seringkali mengambil tindakan yang kalau bahasa sederhananya, enggak pakai pikir panjang,” papar Retno. Hal senada diutarakan dosen psikologi Universitas Fort De Kock Bukittinggi, Fitri Yanti, yang menjelaskan bahwa distres pada remaja dapat terjadi akibat tekanan dari permasalahan keluarga seperti konflik orang tua, atau saat anak tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang mereka alami baik di sekolah maupun di lingkungan lainnya.
Dosen Fakultas Psikologi dari Universitas Pancasila, Aully Grashinta, menerangkan ada beberapa faktor yang menyebabkan toleransi remaja terhadap stres sangat rendah hingga tersembul ide atau pikiran bunuh diri:
- Kepribadian yang Rentan: Remaja yang tidak mudah terbuka pada orang lain atau kerap menyelesaikan masalah sendirian sangat rentan terhadap stres dan tidak memiliki kesehatan mental yang baik.
- Pola Asuh atau Didikan Keluarga: Beberapa orang tua mendidik anak tanpa mengajarkan nilai-nilai pentingnya sebuah proses dan usaha. Ada orang tua yang ingin anaknya tidak mengalami kesulitan, sehingga tidak membiasakan mereka mengatasi masalahnya sendiri. “Jadi anak-anak ini tidak dibekali dengan baik bagaimana dia harus menyelesaikan masalahnya. Sehingga dilakukanlah, menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih cepat yaitu bunuh diri,” jelas Aully.
- Lingkungan dan Media Sosial: Perkembangan teknologi yang pesat dan pengaruh media sosial turut memengaruhi kepribadian anak-anak atau remaja saat ini. Kemudahan memperoleh sesuatu tanpa diimbangi didikan soal pentingnya kerja keras membuat mental mereka rapuh. “Generasi Z dan Alpha ini sangat berbeda dengan generasi Milenial atau X. Di mana ketika generasi Milenial kalau punya masalah, mereka harus mengupayakan suatu tindakan untuk bisa mendapatkan sesuatu,” jelas Aully Grashinta. “Tapi karena teknologi, kecepatan informasi, kemudahan dalam mendapatkan sesuatu, pola itu berubah. Generasi Z dan Alpha menjadi impulsif. Ketika tidak mendapatkan apa yang diharapkan mudah kecewa.” Kondisi ini diperparah oleh gampangnya akses atau tayangan bermuatan bunuh diri, baik di media sosial maupun media konvensional, tanpa dibarengi edukasi dan pemahaman utuh bahwa tindakan tersebut bukanlah solusi yang tepat dari pemecahan masalah. “Ini yang membuat mereka, sekarang, secara kesehatan mental tidak tangguh, tidak kuat, yang akhirnya bukan mencari solusi positif tapi lebih kepada hal-hal yang negatif, menyakiti diri sendiri,” paparnya.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua dan Sekolah?
Orang terdekat semestinya bisa ‘membaca’ jika terjadi perubahan perilaku pada remaja yang mengarah pada tindakan bunuh diri. Misalnya, anak atau remaja yang dikenal ceria, tiba-tiba menarik diri dan berubah jadi pendiam, atau adanya perubahan kebiasaan sehari-hari. Termasuk ucapan-ucapan yang kadang dianggap sebagai gurauan belaka, kata psikolog Retno Lelyani Dewi. “Contohnya aku capek banget kayaknya mau mati deh, aku enggak berharga, atau jelas bilang aku pengen bunuh diri deh. Itu walaupun dia bercanda, tapi sudah tersimpan upaya bunuh diri,” jelasnya.
Dukungan terpenting bagi seorang anak sudah pasti berasal dari orang tua. Retno menyarankan para orang tua agar lebih peka melihat perkembangan anak-anak mereka. Jika melihat ada sikap yang berbeda, jadilah pendengar yang baik. “Karena kadang-kadang mereka enggak butuh nasihat, dia cuma butuh ada orang di sampingnya yang mendengarkan. Kan enggak mungkin dia cerita sama batu atau tanaman. Dia butuh orang.” Ia menambahkan, “Jadi ayah atau ibu, enggak perlu ngomong. Cukup kasih air putih, diusap-usap, sudah cukup. Itu sesuatu yang membuat dia merasa, ‘Oh saya tidak sendiri’.” Jika orang tua memiliki kemampuan konseling, mereka bisa membantu validasi perasaan anak, namun jika tidak, ajaklah anak ke profesional.
Sementara untuk guru-guru atau wali kelas di sekolah, ia meminta agar memperhatikan lingkup pertemanan murid-muridnya. Dalam beberapa kasus yang ia temui, anak atau remaja yang lingkaran pertemanannya kecil dan tertutup lebih rentan mengalami tekanan mental. Ia juga menyarankan pendidik agar tidak menyepelekan aduan yang disampaikan murid. “Ada kalanya murid-murid lebih nyaman cerita sama teman sebaya. Maka harusnya di setiap sekolah ada peer counselor. Kalau dulu disebutnya PMR.”
Wartawan Siti Fatimah di Sukabumi dan Halbert Chaniago di Padang berkontribusi untuk laporan ini.
Jika Anda, sahabat, atau kerabat memiliki kecenderungan bunuh diri, segera hubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas, Rumah Sakit terdekat, atau Halo Kemenkes dengan nomor telepon 1500567.
- Kematian mahasiswa Timothy Anugerah dan dugaan perundungan di Universitas Udayana
- Insiden bunuh diri di Indonesia bisa empat kali ‘lebih tinggi dari data resmi’, menurut penelitian terbaru – Apa imbasnya?
- Tiga mahasiswa bunuh diri dalam sepekan – Mengapa anak-anak muda rentan untuk mengakhiri hidup?
- ‘Mamah tidak rela hidup terus-terusan susah’ – Kisah ibu dan dua anak di Kabupaten Bandung mengakhiri hidup diduga karena tekanan ekonomi
- Kesaksian calon dokter spesialis yang sempat berusaha bunuh diri – ‘Perundungan dijustifikasi atas nama pendidikan mental’
- ‘Saya nyaris bunuh diri, sekarang saya membantu ibu lain hadapi depresi pascamelahirkan’
- Kasus ‘bunuh diri’ satu keluarga di Jakarta Utara – Dari bisnis kapal yang bangkrut, tali pengikat tangan, hingga dugaan keterlibatan orang lain
- Hotline pencegahan bunuh diri ‘belum memadai’ dan rentan ‘bikin kapok’ – ‘Masa orang mau bunuh diri dijawab jutek’
- Mengapa orang tua bunuh diri bersama anak?



