
Selat Makassar adalah salah satu jalur maritim tersibuk di dunia. Sebanyak 36.000 kapal per tahun melintasi selat yang berlokasi di antara Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi ini.
Selain kapal-kapal industri, asosiasi kapal pesiar Indonesia menyebut, Selat Makassar merupakan jalur padat kapal-kapal pesiar asing dengan berbagai tujuan ke kawasan wisata di wilayah timur Indonesia.
Namun, kesibukan jalur maritim di permukaan, berimbas pada keanekaragaman hayati di bawahnya.
Peneliti terumbu karang menyebut Selat Makassar sebagai ‘medan perang ekologis’. Ribuan hektare ‘kuburan karang’ yang kelabu dan patah akibat tabrakan kapal dan jangkar raksasa, terhampar di dasar selat.
Di situlah sekelompok perempuan muda yang menyebut diri mereka sebagai ‘tukang kebun bawah laut’ mengambil peran, menjadi pemulih terumbu karang.
Ancaman ganda di Garis Wallace
Selat Makassar yang menjadi pembatas biogeografi Garis Wallace, bukan sekadar jalur migrasi biota laut yang penting secara global; ia juga koridor ekonomi yang padat.
Imbasnya, tekanan terhadap ekosistem di sini sangat besar.
Hasil penelitian dan pemantauan yang dilakukan Universitas Hasanuddin menyebut terumbu karang di Kepulauan Spermonde berada dalam kondisi memprihatinkan.
Tutupan karang hidup di atas 50% sudah jarang ditemukan. Mayoritas tutupan karang berada di bawah 50% atau bahkan hanya 25%.
Oleh sebab itu, saat ini Selat Makassar disebut sebagai ‘medan perang ekologis’.

Keberadaan terumbu karang di Selat Makassar terancam dua hal, menurut ahli karang dari Universitas Hassanudin, Syayudin Yusuf.
Ancaman pertama, di laut akibat dari praktik-praktik perusakan terumbu karang, baik oleh penangkapan ikan secara ilegal menggunakan bom atau bius, atau akibat tabrakan kapal dengan karang.
“Artinya, kerusakan yang terjadi begitu cepat sementara pertumbuhan [dari upaya rehabilitasi] sangat lambat, sehingga tidak sebanding,” kata Syafyudin, yang menambahkan saat kapal menabrak karang atau ketika jangkar dilepas dan menghancurkan karang di bawahnya, imbasnya bisa sangat fatal.
“Jika terus terjadi tabrakan itu, terumbu karang bisa sangat rusak dan sisa karang yang hidup jumlahnya hampir sama dengan nol, jadi tidak ada karang yang bisa hidup,” katanya.
Dia menyebut, upaya restorasi yang dilakukan membutuhkan waktu lama, salah satunya karena panjangnya birokrasi.
“Contohnya, saat terjadi tabrakan dengan kapal di Pulau Lanjukang pada 2008, kasusnya baru diurus pada 2010 dan restorasi terumbu karang dilakukan pada 2011, akibatnya kondisi terumbu karang di wilayah itu terus menurun,” papar Syafyudin.

Mudasir Zainuddin, warga Sulawesi Selatan yang juga aktif melakukan konservasi menyebut, degradasi terumbu karang di Selat Makassar, bahkan sudah terjadi sejak lama.
Dia menyaksikan sendiri penurunan kondisi itu sejak menjadi mahasiswa pada tahun 2000-an.
“Kerusakan parah mulai terlihat sekitar tahun 2008. Ada yang patah bekas bom [ikan], ada yang karena jangkar kapal. Wisatawan atau penyedia jasa wisata kadang tidak sadar buang jangkar di terumbu karang,” papar Mudasir, yang kini menjadi inisiator Gerakan Adopsi Karang Sulawesi Selatan.
Ia mengatakan, kendati sudah ada upaya konservasi karang, aktivitas nelayan, wisata dan pelayaran yang sibuk di Selat Makassar, seakan menihilkan upaya itu.
Mudasir mencontohkan, pada awal 2024, struktur restorasi laba-laba yang sudah tumbuh subur di dekat Pulau Samalona hancur total ditabrak kapal barang. Imbasnya, restorasi harus kembali dilakukan dari awal.

Selain ancaman fisik dari kapal, ada juga pembunuh senyap: penangkapan ikan menggunakan bius sianida.
Hal itu diakui Maraung Daeng Rate, yang dulu kerap menangkap ikan menggunakan bius sianida.
“Dulu waktu saya bius ikan, saya belum tahu itu bisa ikut menghancurkan karang,” ujarnya.
Dampak dari bius itu berbeda dengan kerusakan akibat bom atau jangkar yang lebih mudah dipulihkan.
Kerusakan terumbu karang akibat bius mengakibatkan karang mati dan permukaannya tertutup alga, sehingga sulit pulih secara alami atau dijadikan media tanam baru.
“Kalau pun karang yang sudah terkena bius mau direhabilitasi, alganya di permukaan itu harus dibersihkan dulu, tapi itu sangat sulit dan membutuhkan waktu lama,” papar M. Rizki Latjindung, direktur Lembaga Maritim Nusantara (LEMSA), yang organisasinya aktif melakukan konservasi di Selat Makassar.
“Kami tidak pernah menemukan karang yang sudah rusak karena bius [sianida] kemudian digunakan kembali sebagai media baru untuk karang bisa tumbuh di situ,” tambahnya.
Ancaman kedua, papar Syafyudin, berasal dari darat. Aktivitas manusia di darat, seperti pertanian, perkebunan, dan penebangan hutan, ikut memengaruhi kondisi terumbu karang.
Penebangan pohon di hutan, ujar Syafyudin, akan mempercepat aliran sungai ke laut. Sementara, sawah dan ladang akan mengalirkan lumpur yang bercampur dengan pupuk ke laut melalui sungai dan menyebabkan eutrofikasi di pesisir.
“Eutrofikasi ini akan menyebabkan pertumbuhan alga yang cukup besar, sehingga mengalahkan pertumbuhan karang,” katanya.
“Akibatnya bisa kita lihat sekarang, terumbu karang yang berada di sekitar pesisir Kepulauan Spermonde ini, mengalami degradasi yang sangat drastis akibat dari penyuburan perairan tadi itu,” tambah Syafyudin.
Upaya konservasi lewat ‘adopsi karang’
Di sisi lain, masifnya kerusakan terumbu karang di Selat Makassar ini, membuat banyak orang tergerak melakukan konservasi.
Di sinilah Mudasir Zainuddin mengambil peran. Dosen Universitas Wira Bhakti ini ingin mengembalikan keindahan karang, yang 20 tahun lalu sempat ia nikmati.
“Di sini dulu cantik [terumbu karangnya]. Tahun 2000-2006 itu cantik. Pada 2008, mulai ada perubahan, kondisi karang mulai rusak. Ada yang patah, ada yang bekas-bekas bom, dan semakin lama, semakin rusak,” terang Mudasir.
Kerusakan terumbu karang juga membuat wilayah pesisir bergeser karena abrasi yang terus terjadi.
“Karena ini yang menahan pasir ini, supaya tidak terjadi abrasi adalah ekosistem terumbu karang. Makanya setelah rusaknya ini, kondisi pulau ini mulai bergeser pasirnya. Karena tidak stabil, karena pengaruh gelombang dan ombak itu,” tambahnya.

Berangkat dari kekhawatiran itu, Mudasir getol mengampanyekan konservasi, salah satunya dengan mengajak kaum muda melakukan ‘adopsi karang’.
Berbeda dengan transplantasi karang yang seringkali selesai setelah penanaman, metode adopsi menekankan pada perawatan jangka panjang, karena biaya yang didonasikan dari para adopter karang memungkinkan upaya pemeliharaan secara reguler.
“Adopsi karang itu pelibatan masyarakat. Kita jaga, pelihara, dan lakukan monitoring serta pembersihan tiap bulan,” jelas Mudasir.
Para ‘orang tua asuh’ ini mendapatkan laporan berkala mengenai pertumbuhan karang mereka.
“Kami melakukan pemantauan setiap bulan, hasilnya kami laporkan melalui media sosial, ini hasilnya, begini kondisinya. Supaya teman-teman bisa lihat ini faktanya yang kita lakukan,” katanya.
Partisipasinya tidak terbatas pada warga lokal, melainkan dari seluruh Indonesia. Latar belakang partisipan adopsi pun berasal dari beragam profesi. Walaupun, Mudasir mengakui, belum banyak yang konsisten.
“Nah, ternyata saat mereka melihat ada [terumbu karang] yang rusak, mereka merasa sedih. Akhirnya, mereka bersama-sama menggagas untuk melakukan kegiatan transplantasi karang dan itu terus meluas,” papar Mudasir.
Saat ini, Mudasir menyebut, semakin banyak anak muda yang terlibat upaya konservasi lewat adopsi terumbu karang ini.
“Artinya, banyak teman-teman muda yang semakin menyadari pentingnya konservasi karang ini, terbukti dengan banyaknya yang menjadi adopter di kegiatan-kegiatan kami, termasuk para perempuan muda,” ujar Mudasir
‘Bukan hanya pekerjaan laki-laki’
Di antara para pemuda yang aktif melakukan konservasi terumbu karang, terdapat sekelompok perempuan Generasi Z dan Milenial yang menyebut diri mereka sebagai ‘tukang kebun bawah laut’.
Salah satu ‘tukang kebun’ itu adalah Dilla.
Perempuan berusia 24 tahun yang bekerja di bidang ekspor ini, menghabiskan akhir pekannya di dasar laut di Pulau Samalona, Kepulauan Spermonde, Makassar.
“Saat pertama kali melihat terumbu karang yang rusak, jujur saya merasa sangat sedih. Itu berarti ekosistem di bawah rusak dan biota-biotanya kehilangan rumah,” ujar Dilla.
Kesedihan itu berubah menjadi aksi. Ia kini adalah bagian dari gelombang baru konservasionis di Makassar yang mendobrak stigma bahwa pekerjaan fisik di laut adalah ranah laki-laki.
Mengenakan perlengkapan selam lengkap yang berat, ia berlutut di dasar pasir. Tangannya yang cekatan dengan hati-hati ‘menjahit’ patahan karang hidup ke substrat buatan menggunakan pengikat kabel.
Substrat itu kemudian dia tanamkan di dasar laut yang memutih, pertanda terumbu karang yang mati.
“Tantangan terbesarnya itu dari fisik. Kita angkat tabung, pakai alat sendiri, itu agak berat,” ujarnya.
“Tapi lelahnya terbayar saat melakukan transplantasi di bawah dan melihat apa yang kita lakukan bisa dinikmati untuk generasi selanjutnya,” papar Dilla.
Bagi Dayani Mariam, melakukan upaya konservasi terumbu karang di bawah laut, bukan hal yang sulit dilakukan.
“Bisalah perempuan juga melakukan aktivitas seperti itu, seperti mengambil fragmen karang, kemudian mengikat, itu masih terbilang mudah dilakukan,” ujar perempuan yang akrab disapa Iyam ini.
Nimas menyebut kegiatan transplantasi itu justru bisa jadi ajang kolaborasi sesama perempuan yang punya hobi menyelam.
“Ini bukan hanya pekerjaan yang khusus untuk laki-laki, perempuan juga bisa, karena bisa dilakukan bersama-sama, jika ada beban [yang berat] untuk diangkat,” katanya.
Menurut ahli karang Universitas Hasanuddin, Syafyudin Yusuf, pelibatan perempuan muda memberikan keuntungan teknis dalam restorasi karang.
“Karang membutuhkan sentuhan lunak, polip itu sangat sensitif terhadap sentuhan yang terlalu keras,” kata Syafyudin.
“Perempuan punya sentuhan yang lebih lembut terhadap polip-polip karang yang kita tanam dan ini sangat membantu menangani karang yang rapuh,” tambahnya.
Di sisi lain, melihat sendiri pertumbuhan karang yang mereka tanam, dan perlahan meyaksikan kehidupan laut kembali bersemi, menjadi penguat komitmen bagi para ‘tukang kebun bawah laut’ ini untuk terus melakukan konservasi.
“Melihat proses tumbuh karang itu mengajarkan kesabaran. Setelah melihat terumbu karang itu besar, kemudian ditempati pemijahan ikan, itu sangat memuaskan bagi kita yang menanamnya sendiri,” papar Iyam.
Upaya para perempuan muda ‘tukang kebun bawah laut’ ini bukan sekedar omong kosong. Penelitian terbaru yang dilakukan Universitas Wira Bhakti Makassar, dan diterbitkan di Jurnal Bioma pada Desember 2025, menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Selama 10 bulan terakhir, transplantasi yang dilakukan di Pulau Samalona memperlihatkan tingkat pertumbuhan di atas 80%, dengan karang baru yang punya ketahanan hidup tinggi terhadap stres lingkungan.
Aksi nyata melampaui media sosial
Gerakan konservasi ini juga menjadi pembuktian bagi para perempuan muda yang kerap dicap ‘hanya aktif di media sosial’.
Aktivis konservasi laut Selat Makassar menyebut, keaktifan para perempuan muda di media sosial justru jadi poin penting dalam restorasi terumbu karang.
“Mereka bisa lebih efektif mengampanyekan isu ini di media sosial,” papar Rizki Latjindung dari LEMSA.
Alasan itu juga yang membuat Rizki terus mengajak para perempuan muda ikut berpartispasi di organisasinya.
Saat ini, Rizki menyebut keterlibatan perempuan dalam program mereka mencapai 30 persen.
“Perempuan punya kekuatan dalam menyebarkan kampanye lingkungan,” katanya.
“Video atau pesan konservasi dari perempuan lebih didengarkan publik. Dan itu sangat membantu.”
Media sosial, sebut Dilla, bisa jadi langkah pertama bagi mereka yang ingin terlibat upaya konservasi.
Langkah lain, Dilla menyarankan memulai dari hal-hal kecil, seperti tidak merusak karang saat berwisata di laut, atau tidak membuang sampah di laut.
“Jadi walaupun dia tidak bisa menyelam, karena tidak punya lisensi misalnya, dia bisa melakukan adopsi karang, jadi dia tidak turun langsung ke lapangan, tapi dia bisa ikut turun berkontribusi,” papar Dilla.
Mudasir berharap upaya konservasi yang dimotori para perempuan muda ini bisa memperbaiki industri wisata di Kepulauan Spermonde.
“Kalau terumbu karang rusak, tidak ada lagi wisata di Pulau Samalona, karena turis datang untuk lihat keindahan bawah laut di sini.”
Wartawan Abd Rahman Muchtar di Makassar berkontribusi untuk liputan ini.
- Kisah perempuan adat Yenbuba merestorasi terumbu karang Raja Ampat yang rusak akibat insiden Caledonian Sky tujuh tahun lalu
- Terumbu karang di dunia memutih akibat panas yang mematikan di dalam laut
- Kisah perempuan Papua di balik peristiwa viral Save Raja Ampat – ‘Biarpun ditangkap, saya tetap berjuang’
- Terumbu karang raksasa ‘mirip pisau’ ditemukan di perairan Australia, lebih tinggi dari Menara Kembar Petronas
- Setengah gugusan terumbu karang terbesar di dunia hilang sejak 1995 akibat perubahan iklim
- ‘Sesudah ada larangan ekspor terumbu karang, saya kehilangan segalanya’



