
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga gas alam global kembali mencuri perhatian seiring lonjakannya yang signifikan beberapa pekan terakhir dan volatilitas ekstrem yang menyertainya.
Mengutip Bloomberg harga gas alam ditutup menguat 4,56% ke level US$ 5,27 per MMBtu. Dengan posisi tersebut, makan harga gas sudah melonjak 70,0% secara mingguan dan 52,90% YoY.
Analis Komoditas dan Founder Traderindo.com Wahyu Laksono berpandangan, volatilitas tinggi pada gas alam tidak terjadi tanpa sebab.
Salah satu pemicu utamanya berasal dari karakteristik fisik gas alam itu sendiri yang jauh berbeda dibandingkan komoditas energi lain seperti batubara atau minyak mentah WTI.
Sentimen Risk-On Dorong Rupiah Menguat, Ini Proyeksi Pekan Depan
“Gas alam sangat sulit disimpan. Ia membutuhkan infrastruktur khusus seperti jaringan pipa atau tangki kriogenik untuk LNG. Ketika kapasitas penyimpanan terbatas atau terjadi gangguan teknis, harga bisa langsung melonjak atau justru terjun bebas,” jelas Wahyu kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Ia menambahkan, sifat infrastruktur gas yang kaku membuat pasar sangat sensitif terhadap gangguan pasokan.
Penutupan terminal LNG akibat badai atau kebocoran pipa, misalnya, dapat memangkas pasokan secara instan dan memicu panic buying di pasar.
Faktor lain yang kerap memperparah volatilitas adalah suplai dan cuaca. Pasar gas alam sangat bergantung pada proyeksi cuaca 10-14 hari ke depan, khususnya di belahan bumi utara.
Jika prediksi cuaca tiba-tiba berubah drastis, misalnya dari suhu dingin normal menjadi badai salju ekstrem, pelaku pasar akan buru-buru menutup posisi short.
“Kondisi ini sering memicu short squeeze dan lonjakan harga yang tajam,” lanjutnya.
AMAG Gelar Buyback Tanpa RUPS, Siapkan Anggaran Rp 90,15 Miliar
Di sisi lain, sistem distribusi gas yang bersifat just-in-time membuat margin antara pasokan dan permintaan sangat tipis. Ketidakseimbangan kecil saja bisa berdampak besar terhadap harga.
Kata Wahyu, volatilitas ekstrem ini juga menjadikan gas alam sebagai magnet bagi spekulan dan hedge fund. Pergerakan harga harian yang bisa mencapai 5%–10% membuka peluang keuntungan besar dalam waktu singkat.
“Masuknya spekulan meningkatkan likuiditas, tapi sekaligus membuat harga rentan berbalik arah dengan cepat saat terjadi aksi ambil untung massal. Itu sebabnya pola pergerakan gas alam sering membentuk lonjakan tajam lalu koreksi cepat,” katanya.
Selain itu, perkembangan teknologi LNG turut mengubah lansekap pasar gas global. Harga gas yang sebelumnya bersifat regional kini semakin terintegrasi secara global.
Artinya, volatilitas kini tidak hanya dipengaruhi cuaca lokal, tetapi juga faktor geopolitik dan logistik global.
Harga Terjun Bebas, Prajogo Pangestu Kembali Akumulasi Saham Petrindo (CUAN)
Dengan harga gas alam saat ini berada di atas US$ 5,0 per MMBtu dan volatilitas yang masih tinggi, Wahyu menilai pasar tengah berada dalam fase spekulatif.
Ia mengingatkan, bagi investor yang terbiasa dengan saham atau batubara yang relatif lebih stabil, fluktuasi gas alam bisa sangat mengejutkan.
“Harga gas bisa kembali normal dengan cepat ketika proyeksi suhu di belahan bumi utara mulai menghangat,” ujarnya.
Ke depan, Wahyu menilai gas alam lebih cocok dimanfaatkan untuk strategi trading jangka pendek. Untuk semester I-2026, Wahyu memproyeksikan harga gas alam bergerak di kisaran US$ 2,5 – US$ 6,0 per MMBtu.



