Wall Street menguat Jumat (16/1), saham produsen chip pimpin kenaikan di akhir pekan

Posted on

caristyle.co.id  Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) ditutup menguat pada Jumat (16/1/2026), dipimpin oleh lonjakan saham-saham produsen semikonduktor di tengah pekan perdagangan yang bergejolak sekaligus menandai dimulainya musim laporan keuangan kuartal IV-2025.

Melansir Reuters, perdagangan pukul 09.35 waktu setempat, indeks Dow Jones naik 67,35 poin atau 0,14% ke level 49.509,79. Indeks S&P 500 menguat 18,67 poin atau 0,27% ke 6.963,14, sementara Nasdaq Composite naik 114,46 poin atau 0,49% ke 23.644,48.

RMK Energy (RMKE) Ganti Direksi, Volume Jasa Logistik ditarget 12,7 Juta Ton

Saham-saham produsen chip memori memimpin penguatan. Micron Technology, Seagate Technology, dan SanDisk masing-masing naik di kisaran 2% hingga 7%, melanjutkan reli kuat sepanjang 2025 yang ditopang optimisme permintaan chip berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Saham ETF iShares Semiconductor menguat 2,1% pada Jumat, memperpanjang kenaikannya menjadi hampir 12% sepanjang tahun berjalan.

Capaian ini jauh melampaui kenaikan Nasdaq 100 yang baru sekitar 1,2%, mencerminkan kuatnya kepercayaan investor terhadap prospek sektor semikonduktor.

Meski menguat pada akhir pekan, saham AS secara keseluruhan masih bergerak menuju penurunan mingguan tipis.

Hal ini terjadi meskipun indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average sempat mencetak rekor penutupan tertinggi pada awal pekan.

BBCA dan BMRI Teratas, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing Sepekan Terakhir

Indeks S&P 500 kini berada sekitar 30 poin di bawah level psikologis 7.000, yang oleh sejumlah analis dinilai sebagai area resistensi teknikal penting.

Tekanan di pasar datang dari kekhawatiran atas dampak rencana pembatasan suku bunga kartu kredit maksimum 10% selama satu tahun.

Isu tersebut membebani saham-saham sektor perbankan dan pasar secara luas, meskipun bank-bank besar AS mencatatkan kinerja kuartalan yang solid.

“Perbankan mengawali pekan dengan baik dan menunjukkan bahwa konsumen masih belanja serta belum ada kekhawatiran besar. Tinggal dilihat apakah hal itu benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan konsumsi,” ujar Presiden Halo Investing, Jason Barsema.

Pasar saham AS akan tutup pada Senin (19/1/2026) seiring libur Martin Luther King Jr. Day.

Namun, musim laporan keuangan diperkirakan semakin ramai pekan depan dengan rilis kinerja dari perusahaan besar seperti Netflix, Johnson & Johnson, dan Intel.

Rupiah Dalam Tren Melemah Pekan Ini, Simak Proyeksinya untuk Pekan Depan

Sektor Defensif Ungguli Kinerja Mingguan

Sektor barang konsumsi primer, properti, dan utilitas yang dikenal sebagai sektor defensive mencatatkan kinerja terbaik secara mingguan.

Sebaliknya, sektor keuangan tertekan dan berada di jalur penurunan mingguan terdalam sejak Oktober.

Rotasi ke sektor defensif terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait independensi Federal Reserve, setelah Ketua The Fed Jerome Powell menyebut Departemen Kehakiman AS membuka penyelidikan kriminal terhadap dirinya.

Meski demikian, penasihat Gedung Putih Kevin Hassett berupaya meredam kekhawatiran pasar dengan menyatakan bahwa kasus tersebut diperkirakan tidak akan berlanjut serius.

Pekan ini juga ditandai dengan pergeseran dana dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar ke segmen yang dinilai lebih murah.

Indeks S&P 600 mid-cap dan Russell 2000 small-cap masing-masing diperkirakan naik sekitar 2% sepanjang pekan.

Urgensi Proof of Reserve dan UU P2SK dalam Menguatkan Keamanan Dana Investor Kripto

Serangkaian data ekonomi AS terbaru turut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya lebih lama.

Pasar juga menantikan pidato pejabat The Fed, Michelle Bowman dan Philip Jefferson, yang dijadwalkan berlangsung sebelum bank sentral AS memasuki masa blackout menjelang rapat kebijakan pada 27–28 Januari.

Di sisi lain, saham State Street turun 2,7% setelah melaporkan penurunan laba kuartal IV.

Saham-saham produsen listrik independen juga tertekan setelah laporan menyebut sejumlah negara bagian AS akan menandatangani kesepakatan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk membatasi lonjakan biaya listrik akibat pesatnya pembangunan pusat data.

Saham Talen Energy anjlok 9,6%, sementara Constellation Energy dan Vistra masing-masing turun lebih dari 7%.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *