Koreksi IHSG jadi peluang akumulasi saham fundamental, ini rekomendasi analis

Posted on

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan pasar saham domestik sedang berada dalam fase tekanan. Sepanjang tiga hari perdagangan berturut-turut pada awal pekan pertama Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami koreksi. 

Bahkan pada Rabu (4/3/2026), IHSG merosot tajam hingga 4,57% dan ditutup di posisi 7.577,06. Meski demikian, pada perdagangan Kamis (5/3/2026) IHSG berhasil berbalik arah. Indeks menguat 133,47 poin atau naik 1,76% sehingga ditutup di level 7.710,53.

Sentimen dari Timur Tengah hingga revisi outlook dari lembaga asing Fitch Ratings dinilai menjadi penyebab kelesuan indeks pekan ini. Meski begitu, koreksi tajam tersebut tidak selalu berarti kabar buruk. 

Di tengah lesunya IHSG, kondisi ini justru membuka peluang bagi investor untuk mencuil cuan dengan strategi selektif. Saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid yang tergabung dalam indeks LQ45 berpotensi menjadi incaran. 

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan di tengah koreksi indeks yang terjadi belakangan ini, investor sebenarnya memiliki peluang untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat. 

“Dalam kondisi market yang sedang terkoreksi, strategi yang biasanya digunakan investor adalah buy on weakness pada saham-saham likuid dan big caps seperti yang tergabung dalam LQ45, karena volatilitas jangka pendek sering membuka ruang entry yang lebih menarik,” kata Elandry kepada Kontan, Kamis (5/3/2026).

Selain itu, investor juga perlu menyesuaikan risk appetite, tidak langsung all in, tetapi melakukan akumulasi secara bertahap sambil melihat stabilisasi sentimen global.

IHSG Ditutup Menguat 1,76% ke Level 7.710, Top Gainers SMGR, MDKA, SCMA

Untuk jangka pendek, saham yang sensitif terhadap sentimen komoditas dan pergerakan global biasanya lebih cepat rebound, misalnya sektor energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) atau batu bara seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Untuk jangka menengah, saham perbankan besar masih menarik karena likuiditas tinggi dan fundamental kuat, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Sementara untuk jangka panjang, saham consumer staples seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) masih memiliki posisi pasar kuat dan memiliki prospek pertumbuhan yang stabil.

“Secara fundamental, banyak emiten dalam indeks LQ45 masih memiliki neraca yang sehat, arus kas kuat, serta pangsa pasar yang besar, sehingga koreksi pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal daripada penurunan fundamental perusahaan,” ujarnya.

Elandry menambahkan faktor global seperti dinamika geopolitik dan revisi outlook dari beberapa Lembaga Pemeringkat seperti Fitch Ratings dan Moody’s beberapa waktu lalu memang mempengaruhi persepsi risiko investor, tetapi secara jangka menengah prospek banyak emiten blue chip masih relatif solid.

“Di tengah volatilitas seperti saat ini, saham LQ45 tetap menjadi safe harbour bagi investor karena likuiditas tinggi, fundamental relatif kuat, dan biasanya menjadi saham pertama yang diburu ketika risk appetite pasar mulai pulih,” tambahnya.

Kondisi Pasar dan Fundamental

Dari sisi teknikal IHSG di kisaran 7.600-7.700 sudah mendekati area historical price levelnya yang berada di area 7.800-8.200. Artinya, setelah koreksi yang terjadi belakangan ini, valuasi pasar mulai kembali ke area cukup menarik untuk akumulasi jangka menengah.

Dari sisi fundamental untuk saham seperti BBCA UNVR dinilai sudah jauh lebih tinggi dari nilai kewajaran fundamentalnya dibandingkan saham seperti, PTBA ICBP INDF MEDC BBRI yang maksimal hanya sekitar 2 kali dari nilai bukunya. 

IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Jumat (6/3), Ini Rekomendasi Analis

“Tapi jika mengacu pada historical price levelnya, saham-saham tersebut masih memiliki potensi kenaikan di kisaran 10%–25% dari harga saat ini,” terangnya.

Berikut rekomendasi saham pilihan yang dapat dicermati:

1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Rekomendasi: Target harga jangka pendek di area Rp 7.200–Rp 7.300, dengan target menengah di 8.000

2.PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

Rekomendasi: Target jangka pendek di area Rp 3.840-Rp 3.880, dengan target menengah di Rp 4.000

3. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)

Rekomendasi: Target jangka pendek di area Rp 1.900–Rp 2.000

4. PT Bukit Asam Tbk

Rekomendasi: Target jangka pendek di area Rp 3.000–Rp 3.150, dengan target menengah dan panjang di Rp 3.680

5. PT Unilever Tbk (UNVR)

Rekomendasi: Target jangka pendek di area Rp 2.090, dengan target menengah di Rp 2.410

6. PT Indofood CBP Tbk (ICBP)

Rekomendasi: Target jangka pendek di area Rp 7.800, dengan target menengah di Rp 8.600

7. PT Indofood Sukses Makmur Tbk

Rekomendasi: Target jangka pendek Rp 6.700, dengan target menengah di Rp 7.275

Arah IHSG Hingga Akhir Kuartal I-2026 Dipengaruhi oleh Sentimen Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *