Jakarta, IDN Times – Pemerintah Israel dan Lebanon sepakat untuk kembali menerapkan gencatan senjata. Kesepakatan ini diraih dalam negosiasi perdamaian tahap keempat yang dihelat di Washington D.C., Amerika Serikat, pada Selasa (2/6/2026) dan Rabu (3/6/2026).
Gencatan senjata ini mewajibkan Israel menahan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon. Di sisi lain, Hizbullah juga dilarang untuk melakukan serangan terhadap Israel. Selain itu, milisi tersebut juga diwajibkan untuk menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan, tepatnya dari wilayah sekitar Sungai Litani.
1. Hizbullah mengancam serangan Israel jika melanggar gencatan senjata 
Gencatan senjata ini mendapat respons dari Hizbullah. Hizbullah meminta Israel untuk mematuhi gencatan senjata yang sudah kembali berlaku dengan Lebanon. Jika melanggar, milisi tersebut menegaskan tidak akan segan-segan untuk menyerang kota-kota besar yang ada di Israel, seperti Haifa dan Tel Aviv.
“Hari ini, mereka (Israel) harus menyadari bahwa setiap pelanggaran akan dibalas dan bahwa tentara mereka di selatan akan tetap rentan terhadap pembunuhan setiap hari sampai penarikan pasukan. Oleh karena itu, setiap eskalasi akan dibalas dengan respons besar dan komprehensif,” ujar Wakil Kepala Dewan Politik Hizbullah, Mahmoud Kamati, dalam sebuah unggahan di X, seperti dilansir The New Arab, Kamis (4/6/2026).
2. Israel kerap menyerang Lebanon meski sudah ada gencatan senjata
Sebelum gencatan senjata kembali diterapkan, Israel kerap melakukan serangan ke Lebanon untuk membunuh semua anggota Hizbullah. Padahal, Israel sebetulnya sudah menyepakati gencatan senjata dengan Lebanon sejak April. Bahkan, pada Mei lalu, gencatan senjata kedua negara sudah resmi diperpanjang selama 45 hari.
Serangan terbaru Israel ke Lebanon terjadi pada Senin (1/6/2026). Serangan tersebut akhirnya membuat Iran protes dan menghentikan proses negosiasi damai dengan AS. Sebab, sebagai negara sahabat, Iran tidak ingin Lebanon terus diserang Israel. Ini karena serangan Israel di negara tersebut sudah menewaskan banyak orang.
3. Donald Trump memprotes serangan Israel ke Lebanon
Langkah yang diambil Iran ini akhirnya membuat Presiden AS, Donald Trump, marah besar ke Israel. Dalam percakapan telepon pada Senin, Trump membentak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, karena telah memerintahkan pasukannya untuk menyerang Lebanon. Saking kesalnya, Trump sampai menyebut Netanyahu gila. Akhirnya, Trump meminta Netanyahu untuk menarik semua pasukan Israel dari Lebanon dan berhenti melakukan serangan.
Meski dikabarkan cekcok, Trump menyebut percakapannya dengan Netanyahu berjalan produktif. Trump mengatakan, Netanyahu kini sudah bersedia menarik mundur pasukan militer Israel (IDF) dari Lebanon agar serangan bisa berhenti. Trump juga berterima kasih kepada Netanyahu karena sudah bersedia menarik IDF dari Lebanon.
Trump Bentak Netanyahu di Telepon, Protes Serangan ke Lebanon Israel Kuasai Lagi Kastel Beaufort di Lebanon Setelah 26 Tahun Israel Rebut Kastil Bersejarah Lebanon, Eropa Ramai Lontarkan Kritik



