Market fokus ke fundamental emiten di tengah arus sentimen negatif jangka pendek

Posted on

caristyle.co.id  Pergerakan pasar saham dalam beberapa waktu terakhir masih dibayangi berbagai sentimen eksternal, mulai dari ketidakpastian geopolitik, volatilitas harga energi, hingga arah kebijakan suku bunga global.

Di tengah kondisi tersebut, investor dinilai perlu kembali berfokus pada fundamental perusahaan dibanding terpengaruh oleh berbagai sentimen jangka pendek.

IHSG Balik Melemah 1,62% di Pagi Ini (5/6), Sektor Keuangan Terjun Bebas!

CEO Yugen Bertumbuh Sekuritas William Suryawijaya mengatakan, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi belakangan ini lebih banyak dipicu oleh sentimen negatif jangka pendek, baik dari faktor global maupun domestik.

“Selain faktor geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia, saat ini terlalu banyak informasi negatif yang belum tentu kebenarannya sehingga seolah-olah menjadi sebuah kebenaran,” ujar William dalam keterangannya Jumat (5/6/2026).

Menurut William, kondisi tersebut membuat sebagian pelaku pasar kehilangan fokus terhadap data dan kinerja fundamental emiten.

Ia menambahkan, tidak seluruh aksi jual yang terjadi di pasar merupakan respons terhadap sentimen negatif.

“Ada aksi jual yang memang merupakan mekanisme pasar yang wajar, seperti akibat margin call atau setelah berakhirnya periode cum-dividen,” jelasnya.

Rupiah Balik Menguat ke Rp 18.017 Per Dolar AS, Usai Dibuka Melemah ke Rp 18.062

Karena itu, William menilai investor perlu kembali menilai saham berdasarkan kualitas fundamental perusahaan, termasuk kekuatan bisnis, kesehatan neraca keuangan, serta kemampuan menghasilkan arus kas yang berkelanjutan.

Di tengah volatilitas pasar, sejumlah sektor masih menjadi perhatian investor, termasuk perbankan, telekomunikasi, energi, dan utilitas.

Untuk sektor energi, analis melihat peluang pada emiten yang memiliki aset infrastruktur strategis dan posisi pasar yang kuat, salah satunya PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

Analis Bahana Sekuritas Abdusshomad Cakra Buana dalam risetnya menyebut fundamental bisnis PGAS semakin solid, didukung potensi kontribusi laba dari anak usahanya, Saka Energi Indonesia, yang bergerak di sektor hulu migas.

IHSG Dibuka Melemah, Cek Rekomendasi ADMR, MAPI, MDKA, RAJA

Kenaikan harga minyak dunia diperkirakan dapat meningkatkan profitabilitas Saka Energi dan berdampak positif terhadap kinerja konsolidasi PGAS.

Bahana Sekuritas memperkirakan laba inti PGAS pada akhir tahun ini dapat tumbuh sekitar 3% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$ 332 juta.

“Kami tetap merekomendasikan PGAS karena cerita pertumbuhannya masih solid,” tulis Bahana Sekuritas.

Bahana mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham PGAS dengan target harga Rp 2.300 per saham.

Selain itu, mulai beroperasinya jaringan pipa gas Pipa Gas Cisem II sejak April 2026 diperkirakan akan meningkatkan pasokan gas ke Jawa Barat dan mendukung pertumbuhan volume distribusi PGAS.

Rupiah Kembali Tertekan di Pagi Ini (5/6): Dibuka ke Rp 18.064 Per Dolar AS

Potensi Dividen Menarik

Bahana juga memperkirakan PGAS mampu mempertahankan rasio pembayaran dividen (payout ratio) yang tinggi berkat posisi kas yang kuat.

Rasio pembayaran dividen diperkirakan berada di kisaran 80%-95% pada 2026, yang berpotensi menghasilkan dividend yield sekitar 11%, dengan asumsi tidak terdapat penurunan nilai aset (impairment).

Pandangan serupa disampaikan oleh tim riset UBS Global Research. Dalam laporan terbarunya, UBS menyoroti dominasi infrastruktur PGAS di sektor gas nasional.

PGAS saat ini mengoperasikan lebih dari 10.000 kilometer jaringan pipa gas hilir atau sekitar 96% dari total jaringan pipa gas nasional.

Perseroan juga memiliki dua fasilitas Floating Storage Regasification Unit (FSRU) di Lampung dan Jawa Barat, fasilitas regasifikasi di Arun, serta kepemilikan pada 12 blok migas di Indonesia dan Amerika Serikat.

Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (5/6): Naik Rp 11. 000 Jadi Rp 2.770.000 Per Gram

Dari sisi keuangan, UBS menilai PGAS memiliki neraca yang sehat dengan posisi kas bersih (net cash) yang terus meningkat.

Kas bersih PGAS diperkirakan mencapai US$ 594 juta pada 2025, kemudian meningkat menjadi US$ 1,09 miliar pada 2026 dan US$ 1,41 miliar pada 2027.

Dengan profil arus kas yang kuat dan kebutuhan investasi yang relatif terkendali, PGAS dinilai memiliki ruang yang cukup untuk mempertahankan kebijakan dividen yang atraktif. Pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terakhir, perusahaan menetapkan rasio pembayaran dividen sebesar 80%.

Di tengah pasar yang masih dibayangi berbagai ketidakpastian global, saham-saham dengan fundamental kuat, posisi kas sehat, dan prospek dividen menarik dinilai berpotensi menjadi pilihan defensif bagi investor jangka menengah hingga panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *