Sinyal dividen jumbo bluechips, mampukah jadi magnet investor asing?

Posted on

caristyle.co.id , JAKARTA – Sinyal guyuran dividen jumbo sejumlah emiten blue chip dari laba tahun buku 2025 dinilai belum cukup menahan laju outflow asing hingga beberapa bulan mendatang.

Sinyal itu datang dari sejumlah emiten yang sudah menyampaikan laporan keuangan tahun buku 2025. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), misalnya, akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang akan digelar pada Kamis, 12 Maret 2026 pukul 14.00 WIB di Menara BCA, Grand Indonesia, Jakarta. 

Dalam pemanggilan resmi yang disampaikan direksi, terdapat tujuh mata acara yang akan dibahas dalam RUPST tersebut. Agenda pertama adalah persetujuan atas laporan tahunan, termasuk laporan keuangan BCA untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025. Agenda kedua menyangkut penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2025. 

Seiring dengan hal tersebut, manajemen BCA mengusulkan agar sebagian laba bersih disisihkan untuk pembagian dividen tunai, sementara sisanya akan dibukukan sebagai laba ditahan. BBCA membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,9% menjadi Rp57,5 triliun sepanjang 2025.

Selain itu, PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) berencana membagikan dividen yang tidak hanya berasal dari kinerja operasional perseroan pada 2025, tetapi juga hasil dari divestasi bisnis es krim dan Sariwangi yang belakangan dilakukan perseroan.

Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap, menerangkan bahwa pihaknya tidak hanya berupaya mempertahankan dividend payout ratio (DPR) di level 100%, tetapi juga berencana memberikan tambahan dividen melalui hasil penjualan sejumlah lini bisnis perseroan.

Unilever membukukan laba bersih Rp7,64 triliun sepanjang 2025, melonjak 126,83% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan Rp3,36 triliun pada 2024.

Kendati demikian, Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto mengatakan sentimen dividen mampu menjadi penahan tekanan harga saham, terutama untuk saham berfundamental kuat dan berkapitalisasi besar tetapi belum cukup membendung arus dana asing keluar.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 13 Februari 2026, aksi jual bersih (net sell) investor asing di pasar saham mencapai Rp16,48 triliun sepanjang tahun berjalan 2026.

“Dividen serta aksi buyback itu kayaknya saya rasa dengan masih derasnya arus modal asing yang keluar agak sulit untuk menahan,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).

: IHSG Sepekan Menguat 3,49%, Net Sell Asing Tembus Rp16,49 Triliun

Meski demikian, dari sisi fundamental, mayoritas saham blue chip dinilai masih memiliki prospek kinerja yang solid pada 2025, dengan asumsi pertumbuhan ekonomi meningkat ke kisaran 5,3% dari sebelumnya 5,1%.

Sejumlah emiten perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan grup konglomerasi seperti PT Astra International Tbk. (ASII) diperkirakan tetap mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang stabil.

Sektor perbankan dinilai masih menarik, meski tantangan menjaga pertumbuhan kredit di kisaran 10% tetap menjadi pekerjaan rumah. Sementara itu, sektor otomotif menghadapi kompetisi ketat, khususnya dari merek kendaraan asal China yang semakin agresif.

Di sektor telekomunikasi, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk. (ISAT), serta PT XL SMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) juga diproyeksikan membukukan pertumbuhan yang solid, ditopang permintaan data yang terus meningkat.

Selanjutnya, Rully mencermati minat investor untuk kembali masuk ke pasar saham  akan berbeda antara domestik dan asing. Dia meyakini investor domestik cenderung tetap akan masuk ketika harga sudah turun dalam, dengan harapan terjadi rebound dalam jangka pendek.

Berbeda dengan investor domestik, investor asing atau foreign funds masih cenderung wait and see. Mereka dinilai belum melihat katalis kuat untuk kembali masuk secara agresif ke pasar saham Indonesia.

Sikap hati-hati ini terutama dipengaruhi oleh faktor global, stabilitas nilai tukar, serta arah kebijakan domestik. Alhasil, arus dana asing belum menunjukkan sinyal pembalikan yang solid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *