
Huntara tersebut tersebar di dua lokasi, yakni Desa Jambak dan Desa Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen, yang berjarak sekitar 60 kilometer ke arah timur dari Meulaboh, ibu kota kabupaten setempat. Pemerintah daerah terus memantau kondisi masyarakat penyintas banjir yang kini menempati huntara tersebut.
Menurut Tarmizi, kenyamanan warga menjadi prioritas utama pemerintah. Meskipun awalnya ada warga yang lebih memilih kompensasi uang, mereka kini mulai merasakan manfaat tinggal di huntara karena fasilitas yang disediakan cukup lengkap. Pemerintah Kabupaten Aceh Barat juga menegaskan bahwa tidak boleh ada atap yang bocor untuk menjaga kenyamanan warga selama tinggal di huntara, sambil menunggu pembangunan hunian tetap yang akan dilaksanakan oleh BNPB.
Menanggapi kondisi dapur warga yang sebelumnya dibangun secara swadaya dengan material seadanya, pemerintah telah menginstruksikan pendistribusian seng baru untuk seluruh dapur warga. Tarmizi menambahkan bahwa setelah hunian tetap selesai dibangun, hunian sementara tersebut akan sepenuhnya menjadi milik masyarakat.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.



