Data NFP AS menguat, begini proyeksi rupiah untuk Senin (8/6)

Posted on

caristyle.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada Jumat (5/6/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat tipis 0,07% secara harian ke Rp 18.036 per dolar AS pada Jumat (5/6/2026). 

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah berada di level Rp 18.039 per dolar AS pada Jumat (5/6), nilai ini sama dengan penutupan pada perdagangan kemarin (4/6). 

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, secara teknikal dan psikologis, rupiah yang tembus ke angka keramat Rp 18.000 telah memicu panic buying terhadap the greenback di pasar domestik.

Sementara intervensi Bank Indonesia melalui pasar spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) kemungkinan besar hanya akan berfungsi sebagai penahan benturan (buffer) untuk meredam volatilitas, bukan membalikkan arah tren (reversal). 

Rupiah dalam Tren Melemah, Simak Rekomendasi Saham Sektor Konsumer

“Kondisi pasar yang jenuh jual (oversold) membuka ruang bagi penguatan teknikal jangka pendek (technical rebound), namun ruang apresiasi rupiah akan sangat terbatas selama likuiditas dolar AS di dalam negeri masih mengalami bottleneck musiman akibat repatriasi dividen kuartal kedua,” ujar Sutopo kepada Kontan, Jumat (5/6/2026). 

Sutopo menambahkan, sentimen utama yang wajib dicermati terkait rupiah pada Senin (8/6) berpusat pada reaksi pasar global terhadap rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) AS periode Mei.

Tercatat data nonfarm payrolls (NFP) periode Mei meningkat sebesar 172.000, melampaui proyeksi ekonom yang memperkirakan bertambah 88.000. Angka yang lebih kuat dari ekspektasi akan semakin memperkokoh narasi higher-for-longer Fed Rate dan mendongkrak Yield US 10-Year melampaui 4,48%. 

Dari sisi geopolitik, kebuntuan negosiasi damai di Timur Tengah serta penolakan gencatan senjata oleh Hezbollah akan terus menjaga indeks dolar (DXY) kokoh di zona aman (safe-haven) sekitar 99,4.

Sementara dari dalam negeri, pelaku pasar akan sangat sensitif memantau efektivitas awal dari pemberlakuan wajib parkir 100% Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam serta melihat apakah rilis data cadangan devisa terbaru BI mampu memberikan sentimen positif atau justru memperlebar risk premium Indonesia di mata investor asing.

Sutopo memproyeksikan, rupiah pada Senin (8/6/2026) masih akan berada di bawah tekanan berat dan cenderung berkonsolidasi di area paling lemah (bottom fishing zone) di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.100 per dolar AS.

Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS pada akhir pekan lalu karena intervensi agresif Bank Indonesia (BI).

Kocok Ulang Portofolio Aset di Tengah Koreksi IHSG dan Rupiah Tembus Rp 18.000

Namun sell of di pasar ekuitas domestik masih berlanjut, mencerminkan sentimen investor yang umumnya masih lemah. 

“Walau ditutup menguat tipis, rupiah masih belum keluar dari tekanan. Investor masih perlu terus mencermati perkembangan baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” ucap Lukman. 

Lukman memproyeksikan, rupiah pada Senin akan dipengaruhi perkembangan geopolitik, respon pasar terhadap data NFP AS, dan data Cadangan devisa Indonesia. Lukman memperkirakan rupiah pada Senin (8/6/2026) bergerak dalam kisaran Rp 17.950 – Rp 18.100 per dolar AS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *