
caristyle.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sedang dalam tren melemah diproyeksi memberi tekanan tambahan bagi emiten sektor konsumer. Pergerakan nilai tukar hingga daya beli diproyeksi menjadi penentu kinerja sektor konsumer ke depan.
Sejumlah analis memberikan rekomendasi saham emiten konsumer. Simak ulasan lengkap rekomendasi saham sektor konsumer.
1. PT Mayora Indah Tbk (MYOR)
MYOR membukukan laba bersih Rp 946 miliar pada kuartal I – 2026, naik 37,15% secara year on year (yoy). Namun pendapatan MYOR turun 4,74% yoy menjadi Rp 9,39 triliun. Pasar permen memiliki persaingan yang relatif tinggi karena hambatan masuk yang rendah. MYOR biasanya menerapkan kebijakan penetapan harga defensif dalam perebutan pangsa pasar.
Di antara perusahaan konsumen, MYOR memiliki bisnis ekspor terbesar, sekitar 40% sampai 50% dari pendapatan. Ekspor diharapkan dapat menyeimbangkan sebagian dampak volatilitas mata uang. MYOR membidik penjualan sebesar Rp 41,85 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 3,41 triliun untuk tahun 2026. Pertumbuhan pendapatan pada tahun ini akan akan didukung dari perbaikan laba kotor akibat dari efisiensi dan penurunan harga bahan baku.
- Rekomendasi: Buy
- Target harga: Rp 2.500
Willy Goutama, Maybank Sekuritas dalam risetnya pada 29 April 2026
2. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
INDF mencatatkan kinerja yang solid pada kuartal I – 2026, dengan pendapatan tumbuh 7% yoy menjadi Rp 33,9 triliun. Meskipun ada tekanan di tingkat operasional, laba bersih meningkat 9% yoy menjadi Rp 2,96 triliun. Sentimen CPO beragam, hambatan ekspor jangka pendek mengaburkan skenario bullish.
Harga CPO melayang di sekitar MYR 4.500 per ton (naik 14% yoy), didukung oleh harga minyak nabati Dalian yang lebih kuat, kekhawatiran penurunan produksi Malaysia, dan ekspor minyak sawit Indonesia melalui entitas perdagangan milik negara mulai September.
Pasar domestik tetap menjadi fokus perusahaan. Kinerja ekspor diharapkan dapat membantu mengimbangi dampak depresiasi rupiah terhadap biaya produksi perusahaan.
- Rekomendasi: Overweight
- Target harga: Rp 7.750
Steven Willie, NH Korindo Sekuritas dalam risetnya pada 29 Mei 2026
UNVR Chart by TradingView
3. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
UNVR mengantongi pendapatan Rp 8,44 triliun pada kuartal I – 2026, naik 2,82% yoy dan laba bersih meningkat 72,99% yoy menjadi Rp 2,14 triliun. Strategi UNVR berfokus pada menavigasi persaingan berbasis nilai lokal, khususnya di bidang deterjen, di mana ekspektasi harga per kilogram telah diatur ulang. Manajemen menekankan leverage operasional berbasis volume bersamaan dengan premiumisasi dalam deterjen cair, format deterjen premium, dan pembersih profesional/kesehatan.
Dalam perawatan mulut, UNVR memegang pangsa pasar sekitar 67% –68%, memanfaatkan produk global untuk bersaing di pasar utama dan memperluas penawaran premium. Pertumbuhan e-commerce mencapai dua digit, tetapi penetrasi UNVR berada di angka satu digit rendah, menjadikannya prioritas strategis dengan pengembangan kemampuan khusus.
Pemasaran menggeser fokus dari TV/digital push ke konten sosial ‘pull’ (TikTok, Meta, YouTube). Indonesia diakui secara internal sebagai pasar praktik terbaik global untuk volume konten, viralitas, dan relevansi merek.
- Rekomendasi: Netral
- Target harga: Rp 1.800
Permada Darmono, UBS Sekuritas Indonesia dalam risetnya pada 25 Mei 2026
4. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)
Pasar luar negeri menyumbang sekitar 28,8% dari pendapatan kuartal pertama tahun 2026, dengan Timur Tengah & Afrika saja menyumbang sekitar 24,6%. Namun, paparan signifikan ICBP terhadap Timur Tengah & Afrika tetap menjadi risiko utama di tengah ketegangan geopolitik dan potensi gangguan di sekitar jalur pelayaran utama. Meskipun operasi dan pasokan bahan baku sejauh ini tetap normal, konflik yang berkepanjangan dapat meningkatkan biaya pengiriman, memperpanjang waktu transit, dan menekan modal kerja.
Cadangan persediaan bahan baku ICBP selama 3-6 bulan seharusnya menunda dampak langsung terhadap laba rugi, tetapi hal itu juga dapat berarti lonjakan harga komoditas saat ini menjadi lebih terlihat mulai kuartal ketiga tahun 2026 dan seterusnya. Kombinasi gandum, minyak nabati, kentang, energi, logistik, pengemasan, dan tekanan nilai tukar dapat membatasi pemulihan margin pada sembilan bulan pertama tahun 2026.
- Rekomendasi: Hold
- Target harga: Rp 7.500
Catherine Florencia, MNC Sekuritas dalam risetnya pada 5 Juni 2026



