Populer: Rupiah melemah; IHSG anjlok

Posted on

Rupiah anjlok jadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Senin (8/6). Selain itu, tekanan pada IHSG juga jadi berita lain yang ramai dibaca. Berikut rangkumannya.

Rupiah Makin Melemah

Nilai tukar rupiah menunjukkan tren pelemahan signifikan, dengan kurs USD/IDR tercatat mencapai level Rp 18.200 per dolar AS pada Senin (8/6) pukul 13.49 WIB. Angka ini merefleksikan pelemahan sebesar 164 poin atau 0,91 persen dari pembukaan yang berada di Rp 18.152 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pelemahan ini berpotensi berlanjut hingga menyentuh level Rp 19.000 per dolar AS pada akhir bulan. Faktor utama pemicu pelemahan berasal dari data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan, membuka peluang bank sentral AS (The Fed) mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Analis lain, Lukman Leong, juga menyoroti penguatan dolar AS pasca-rilis data pekerjaan serta meningkatnya tensi geopolitik global sebagai penyebab utama tekanan pada rupiah.

IHSG Anjlok

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada pembukaan perdagangan Senin (8/6), dibuka di level 5.421,581 atau merosot 3,1 persen. Penurunan semakin tajam hingga 4,15 persen ke level 5.362. Data transaksi awal menunjukkan volume perdagangan mencapai 1,23 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 896,9 miliar, mencerminkan aktivitas jual yang masif.

Chief Economist Bank BTN, Myrdal Gunarto, menjelaskan pelemahan ini dipicu oleh perpindahan dana investor global ke aset di negara maju seperti AS, menyusul data ketenagakerjaan AS yang kuat dan antisipasi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Senada, pengamat pasar modal Desmond Wira menambahkan bahwa koreksi pasar saham global, khususnya di sektor teknologi, serta potensi kenaikan suku bunga The Fed setelah data ekonomi AS yang cenderung kuat, turut menekan IHSG. Tekanan diperparah oleh aksi jual bersih signifikan oleh investor asing.

Meskipun demikian, Myrdal Gunarto mengidentifikasi beberapa sektor yang masih memiliki prospek menarik di tengah kondisi pasar saat ini, terutama yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah dan permintaan ekspor. Sektor-sektor tersebut meliputi energi, pertanian, pangan, dan manufaktur. Namun, Desmond Wira memproyeksikan sentimen negatif masih akan membayangi pasar domestik dalam waktu dekat, dengan koreksi yang bersifat menyeluruh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *